Minggu, 18 Maret 2012

MUQADDIMAH


Muqaddimah
Semua peristiwa sejarah dunia Islam catatannya didasarkan pada hijrah Nabi dari Mekah ke Medinah. Rahasia diambilnya peristiwa besar ini sebagai permulaan sejarah Islam, karena waktu itulah permulaan Allah memberikan kemenangan kepada Rasul-Nya dalam menghadapi mereka yang mcmerangi risalahnya di tanah suci itu. Kemudian mereka melakukan perbuatan-perbuatan makar hendak membunuhnya. Dalam hijrah itu hanya Abu Bakr sendiri saja yang menemani Rasulullah. Dalam sakitnya yang terakhir dan ketika sudah tidak kuat lagi mengimami salat, Rasulullah meminta Abu Bakr bertindak memimpin salat itu menggantikannya. la tidak ingin tempat ini dipegang oleh Umar bin Khattab. Nabi memilih Abu Bakr dalam hijrah dan salat Dipilihnya Abu Bakr menemaninya ketika hijrah dan mengimami salat menggantikannya, karena Abu Bakr Muslim pertama yang beriman kepada Allah dan kepada Rasulullah, dan demi imannya itu pula dialah yang paling banyak berkorban. Sejak masuk Islam besar sekali hasratnya hendak membantu Nabi dalam berdakwah demi agama Allah dan membela kaum Muslimin. la lebih mencintai Rasulullah daripada dirinya sendiri, mendampinginya selalu dalam setiap peristiwa. Di samping itu, di samping iman yang begitu teguh akhlaknya pun sudah mendekati kesempurnaan, cintanya begitu besar kepada orang lain, paling dekat dan akrab kepada mereka. Jika demikian halnya, tidak heran bila Muslimin kemudian mengangkatnya sebagai pengganti Rasulullah. Memang, tidak heranlah dengan sikapnya itu ia membela Islam dan menyebarkan agama Allah di muka bumi ini. Dialah yang telah memulai sejarah lahirnya kedaulatan1 Islam,
Pengertian kedaulatan di sini dan di bagian-bagian lain dalam buku ini merupakan terjemahan kata bahasa Arab imbaraturiyah, 'sebuah kedaulatan besar, luas dan banyak jumlahnya, dengan kekuatan yang besar meliputi bcrbagai macam bangsa, golongan, ras yang kemudian menyebar di timur dan di barat, ke India dan Tiongkok di Asia, ke Maroko dan Andalusia di Afrika dan Eropa, dan yang kemudian mengarahkan kebudayaan umat manusia ke suatu tujuan, yang pengaruhnya di seluruh dunia masih terasa sampai sekarang. Sebuah studi tentang kedaulatan Islam
Selesai menulis kedua buku saya, Sejarah Hidup Muhammad dan Fi Manzilil-Wahy ("Di Lembah Wahyu,") terlintas dalam pikiran saya hendak mengadakan beberapa studi lagi mengenai sejarah kedaulatan Islam sejagat ini, serta sebab-sebab kebesaran dan kemundurannya. Tetapi dalam hal ini saya tergoda oleh suatu pemikiran bahwa kedaulatan Islam ini adalah hasil ajaran-ajaran dan tuntunan Nabi juga. Dalam melakukan studi sejarah Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam dan melihat hasil studi ini yang memang indah, yang sudah sepatutnya akan mcngantarkan langkah umat manusia ke arah kebudayaan yang selama ini didambakan, maka dalam mengadakan studi kedaulatan ini serta perkembangannya, lebih besar lagi hasrat kita hendak mengambil teladan dan ajaran-ajaran Rasulullah sebagai pangkal bertolak. Hal ini akan mempermudah kita memperolch pengetahuan baru mengenai kehidupan yang begitu cemcrlang dan agung. Para ahli rasanya akan lebih puas dengan apa yang pernah saya imbau agar kita lebih mendalami kenyataankenyataan psikologis di samping rohani yang terkandung di dalamnya. Ilmu pengetahuan dengan segala sarananya, dengan segala dalil yang pernah dikemukakan, belum dapat membuktikan, juga tak dapat menafikan. Padahal itu merupakan dasar kebahagiaan hidup umat manusia dan sekaligus menjadi juru kemudinya. Terdorong oleh pemikiran semacam itu, saya yakin bahwa pengenalan kita pada masa lampau dengan sendirinya akan memberikan gambaran masa depan, dan sekaligus membimbing upaya kita ke arah tujuan yang sesuai dengan kodrat kita sebagai manusia. Masa lampau, masa sekarang dan masa depan merupakan satu kesatuan yang tak tcrpisahkan. Mengenai masa lampau adalah suatu langkah untuk mencntukan diagnosis yang tepat masa sekarang serta mengatur masa yang akan datang. Sama halnya dengan pengetahuan seorang dokter mengenai masa lampau penyakit penderitanya, yakni langkah paling baik untuk membuat diagnosis serta cara pengobatannya.
dan kebudayaan yang beraneka warna', (al-Mu'jam al-Kabir); imperium (Latin) atau empire (Inggris), di Rumawi kuno, kedaulatan di tangan seorang pemimpin militer tertinggi; kekuasaan tertinggi, kedaulatan mutlak, absolut, kedaulatan kekaisaran' Webster's New Twentienth Century Dictionary.
Masa sekarang yang telah dilahirkan oleh kedaulatan Islam, dalam arti khusus meliputi semua bangsa berbahasa Arab, dan mereka yakin pula bahasa mereka mempunyai hubungan atau nasab dengan penduduk jazirah itu, dan Mesir merupakan pusat lingkaran bangsa-bangsa itu: dikelilingi oleh Palestina, Suria dan Irak di sebelah timur; Tripoli, Tunis, Aljazair dan Maroko di sebelah barat. Dalam arti umum, sekarang meliputi semua bangsa yang beragama Islam di Asia, Afrika dan Eropa. Sudah tentu studi tentang masa lampau kedaulatan Islam yang selalu mempersatukan bangsa-bangsa itu semua akan menjadi pusat perhatian bersama dan masing-masing yang melihat wajahnya ke masa empat belas abad silam itu akan tampak dalam studi ini. Dengan demikian akan kita ketahui pula faktor-faktor yang telah menyebabkan wajah itu ternoda sampai menjadi rusak, dan dengan pengetahuan itu kita akan mencarikan jalan bagaimana wajah itu hams kita kembalikan kepada keagungannya semula, kepada keindahannya yang memang begitu cemerlang. Sementara saya sedang memikirkan hal ini dan segala sesuatunya
yang berhubungan dengan itu, beberapa pihak yang pernah memperlihatkan rasa simpatinya terhadap buku Hayat Muhammad (Sejarah Hidup Muhammad) mendorong saya untuk membuat juga studi mengenai biografi pengganti-penggantinya yang mula-mula, dan secara khusus menulis biografi yang menyeluruh mengenai beberapa pahlawan Islam masa itu, untuk setiap orang ditulis sebuah biografi tersendiri. Kalaupun keinginan teman-teman itu memang mcnyenangkan saya dan juga berkenan di hati, saya sungguh prihatin atas apa yang mereka harapkan itu; suatu hal yang tak akan cukup upaya untuk menyelesaikannya, dan hanya akan menjadi beban yang berat bagi mereka yang sama-sama membantu.
Kenapa dimulai dari biografi Abu Bakr Biografi Umar bin Khattab misalnya, yang banyak dibicarakan orang, karena mereka melihat bahwa sejarah Umar itu adalah titik gemilang dalam wajah sejarah Islam. Dalam hal ini saya berkata dalam hati: kalau begitu kenapa tidak saya mulai dengan sejarah Abu Bakr saja, dengan membuat studi dan mengemukakannya seperti yang sudah saya lakukan dengan Sejarah Hidup Muhammad? Abu Bakr, sahabat dekat
Muhammad, orang yang paling banyak berhubungan dengan dia, di samping memang orang yang paling setia dan paling banyak mengikuti ajaranajarannya. Di samping itu ia memang orang yang sangat ramah dan lembut hati, dan karena dia jugalah puluhan dan ratusan ribu Muslimin tersebar ke segenap penjuru, Juga, dengan segala kelembutannya itu dia adalah Khalifah pertama. Dialah yang telah memperkuat Islam kcmbali tatkala orang-orang Arab yang murtad mencoba mau menggoyahkan sendi-sendi Islam, di samping juga dialah yang telah merintis penyebaran Islam ke luar dan merintis pula kedaulatannya. Jika terlaksana maksud saya menulis sejarah hidupnya seperti yang saya harapkan, kiranya saya sudah juga membuka jalan ke arah penulisan sejarah kedaulatan ini seluruhnya atau sebagiannya. Dengan demikian, apa yang dikehendaki Allah agar tujuan yang agung ini disampaikan, kiranya sudah saya penuhi, dan sekaligus memperlancar jalan buat mereka yang ingin meneruskan atau memulai dari pertama ke arah yang lebih sempurna.
Kebesarannya
Sekiranya usaha saya ini terhenti hanya pada sejarah hidup Abu Bakr saja, rasanya itu pun sudah cukup memadai dan dengan itu hati saya merasa senang juga. Untuk meyakinkan, cukup kiranya kita mengikuti apa yang terjadi pada masa Khalifah pertama itu. Apa yang diceritakan oleh para ahli sejarah mengenai kejadian-kejadian masa itu, dengan segala kebcsaran jiwanya yang kita lihat, sungguh mengejutkan kita, bahkan mengagumkan sekali, atau lebih dari itu, menimbulkan rasa hormat. Malah saya khawatir kalau sampai hal itu dapat menjurus pada pemujaan. Kita memang tidak melihat jelas-jclas pcngertian scmacam itu dalam buku-buku lama mana pun. Tetapi jalannya segala peristiwa dalam sumbcr-sumber itu, kalaupun tidak sampai menerjemahkannya bulat-bulat, setidak-tidaknya sudah memperlihatkan semua kcnyataan itu dengan jelas sekali. Laki-laki yang begitu rendah hati itu, begitu mudah tcrharu, begitu halus perasaannya, bergaul dengan ofang-orang papa, dengan mereka yang lemah — dalam dirinya terpendam suatu kekuatan yang dahsyat sekali. Dengan kemampuan yang luar biasa dalam membina tokoh-tokoh
serta dalam menampilkan posisi dan bakat mereka, ia tak kenal ragu, pantang mundur. Ia mendorong mereka terjun ke dalam lapangan yang bcrmanfaat untuk kepentingan umum, menyalurkan segala kekuatan dengan kemampuan yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka. Di manakah terpendamnya sifat genius dalam diri Abu Bakr itu selama masa Rasulullah dulu? Kcmbali ingatan saya pada sejarah Abu Bakr sebelum menjadi Khalifah. Bila saya tampilkan kembali peranannya di samping Rasulullah, maka tampak ia dengan keagungannya itu dalam warna baru sebagai lingkaran cahaya kebesaran yang seimbang ketika ia bcrada di samping kebesaran dan keagungan Rasulullah. Tctapi semua itu baru tampak jelas di depan mata saya tatkala saya bandingkan dengan sahabat-sahabat Rasulullah yang lain serta pengikut-pengikutnya dari kalangan Muslimin. Betapa pula peranan mereka itu di sisi kebesaran dan keagungannya dengan peranannya pada masa risalah, dan ketika orang-orang Kuraisy begitu hebat memusuhi dan mengganggu Rasulullah, ketika tcrjadi peristiwa Isra, kemudian waktu hijrah, lalu dalam mcnghadapi intrikintrik orang-orang Yahudi di Yasrib (Medinah)?! Peristiwa-peristiwa itu saja rasanya cukup sudah untuk dijadikan dasar penulisan sejarah hidupnya, untuk dicatatkan namanya dalam sebuah catatan yang abadi.
Sungguhpun begitu, kebesaran Abu Bakr adalah kebesaran yang tanpa suara, kebesaran yang tak mau berbicara tentang dirinya, sebab, itu adalah kebesaran jiwa, kebesaran iman yang sungguh-sungguh kepada Allah dan kepada wahyu yang disampaikan kepada. Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam.
Pandangan yang jauh dan tepat
Kemudian apa lagi! Kemudian jalamrya peristiwa demi peristiwa pada masa Abu Bakr itu sudah menjadi saksi pula buat dia akan pendapatnya yang tepat serta pandangannya yang jauh. Ketika terpikir akan memasuki Persia dan Rumawi, setelah merasa lega melihat keadaan kaum Muslimin sudah lepas dari Perang Riddah di kawasan Arab, ia
melihat prinsip persamaan dalam ajaran Islam itu sebagai kekuatan baru yang tak akan dapat dilawan baik oleh Persia maupun oleh Rumawi. Prinsip ini tentu akan menarik hati semua orang dalam kedua imperium itu, yang selama ini berjalan atas dasar kekuasaan pribadi atau menurut sistem raja-raja kecil dan atas perbedaan-perbedaan kelas. Betapapun besarnya persediaan dan perlengkapan manusia dan kekuatan pada kedua imperium itu, namun konsep persamaan dan keadilan akan lebih kuat dari segala kekuatan. Kedaulatan yang bcrlaku, yang didasarkan atas konsep ini, dengan asas keadilan, akan lebih menarik hati rakyat. Meskipun antara dia dengan sementara sahabat-sahabat terkemuka ada perbedaan pcndapat, tetapi tidak sampai menghalangi maksudnya hendak menyerbu Irak dan Syam. Perintah untuk menyerbu itu dikeluarkan dengan keyakinan bahwa Allah akan memberikan bantuan dan pertolongan selalu. Oleh karena itu ia berpesan kepada sctiap pimpinan Meliputi Suria, Libanon, Palestina dan Yordania sekarang. pasukan agar tetap berpegang teguh pada prinsip persamaan dan keadilan dan jangan menyimpang sedikit pun. Dari celah-celah peristiwa yang telah diungkapkan oleh para ahli sejarah dahulu itu perangai demikian ini tampak jelas sekali, walaupun pemerintahan Abu Bakr itu waktunya sangat pendek. Ditambah lagi dengan apa yang ditulis oleh kalangan Orientalis, tampak lcbih jelas lagi, seperti beberapa ulasan yang dapat kita baca dalam buku-buku mereka
serta usahanya hendak menafsirkan beberapa peristiwa itu. Perangai inilah, yang dalam waktu begitu pendek itu ia memikul tanggung jawab Muslimin, patut mendapat catatan tersendiri, dengan jati dirinya serta pembentukan pribadinya yang dapat dilukiskan secara lebih khas dan lengkap.
Ciri khas masa Abu Bakr
Memang saya sederhanakan tatkala saya sebutkan bahwa masa (periode) pemerintahan Abu Bakr punya jati diri dan bentuknya sendiri yang sempurna, yaitu dalam hubungannya dengan masa Rasulullah sebelum itu dan dengan masa Umar sesudahnya, yang ditandai dengan suatu ciri khas. Masa Rasulullah adalah masa wahyu dari Allah. Allah telah menyempurnakan agama itu untuk umat manusia, telah mclengkapinya dengan karunia-Nya dan dengan Islam sebagai agama yang dipilihkan-Nya untuk mereka. Sedang masa Umar ialah masa pembentukan hukum yang dasardasarnya sudah ditertibkan dengan kedaulatan yang sudah mulai berjalan lancar. Sebaliknya masa Abu Bakr adalah masa pcralihan yang sungguh sulit dan rumit, yang bcrtalian dengan kedua masa itu; namun berbeda dengan kedua masa itu. Bahkan berbeda dari setiap masa yang pernah dikcnal orang dalam sejarah hukum dan ketertibannya serta dalam sejarah agama-agama dan penyebarannya.
Mengatasi kesulitan
Dalam masa transisi yang sangat kritis ini Abu Bakr dihadapkan pada kesulitan-kcsulitan yang begitu besar sehingga pada saat-saat permulaan itu timbul kekhawatiran yang dirasakan oleh seluruh umat Muslimin. Setelah semua itu dapat diatasi berkat kekuatan imannya, dan untuk waktu berikutnya Allah telah memberikan sukses dan kemenangan, dating Umar memegang tampuk pimpinan umat Islam. Ia memimpin mereka dengan berpegang pada keadilan yang sangat ketat serta memperkuat pemerintahannya sehingga negara-negara lain tunduk setia kepada kekuasaannya. Memang, telah timbul kekhawatiran di kalangan umat melihat kesulitan yang dihadapi Abu Bakr itu. Sebabnya ialah wilayah Arab yang pada masa Rasulullah sudah tuntas kesatuannya, tiba-tiba jadi goncang begitu RasuluUah wafat. Bahkan gejala-gejala kegoncangan itu memang sudah mulai mengancam sebelum RasuluUah berpulang. Musailimah bin Habib di Yamamah mendakwakan diri nabi dan mengirim delegasi kepada Nabi di Medinah dengan menyatakan bahwa Musailimah juga nabi seperti Muhammad dan bahwa "Bumi ini separuh buat kami dan separuh buat Kuraisy; tetapi Kuraisy adalah golongan yang tidak suka berlaku adil." Juga Aswad Ansi di Yaman mendakwakan diri nabi dan tukang sihir, mengajak orang dengan sembunyi-sembunyi. Setelah merasa dirinya kuat ia pergi ke dacrah selatan lalu mengusir wakil-wakil Muhammad, lalu terus ke Najran. Ia hendak menyebarkan pengaruhnya di kawasan ini. Muhammad mengutus orang kepada wakilnya di Yaman dengan perintah supaya mengepung Aswad atau membunuhnya. Soalnya karena orang Arab yang sudah beriman dengan ajaran tauhid dan sudah meninggalkan penyembahan berhala, tak pernah membayangkan bahwa kesatuan agama mereka telah disusul oleh kesatuan politik. Malah banyak di antara mereka yang masih rindu ingin kembali kepada kepercayaan lamanya. Itu sebabnya, begitu mereka mendengar RasuluUah wafat mereka menjadi murtad, dan banyak di antara kabilah itu yang menyatakan tidak lagi tunduk pada kekuasaan Medinah. Mereka menganggap membayar zakat itu sama dengan keharusan pajak. Oleh karena itu mereka menolak.
 Pemberontakan dan Perang Riddah
Seperti jilatan api, cepat sekali pemberontakan itu menjalar ke seluruh jazirah Arab begitu RasuluUah wafat. Berita pemberontakan ini sampai juga kepada penduduk Medinah, kepada mereka yang berada di sekeliling Abu Bakr setelah mereka mcmbaiatnya. Mereka sangat terkejut. Berselisih pendapat mereka apa yang hams diperbuat. Satu golongan berpendapat, termasuk Umar bin Khattab, untuk tidak mcnindak mereka yang menolak membayar zakat selama mereka tetap mcngakui, bahwa tak ada tuhan selain Allah dan Muhammad RasuluUah. Dengan begitu barangkali mereka menghendaki agar tidak banyak musuh yang akan dapat mengalahkan mereka. Allah tidak memberikan janji kemenangan kepada mereka seperti yang diberikan kepada RasuluUah. Juga Wahyu sudah tidak diturunkan kepada siapa pun lagi setelah Nabi dan Rasul penutup itu berpulang ke rahmatullah. Tetapi Abu Bakr tetap bersikeras, mereka yang menolak merabayar zakat dan murtad dari agamanya harus diperangi. Dan itulah Perang Riddah1 yang telah menelan waktu sctahun lebih. Perang Riddah itu tidak hanya melibatkan ratusan orang dari pasukan Khalifah dan ratusan lagi dari pihak lawan, bahkan di antaranya sampai puluhan ribu dari masing-masing pihak yang terlibat langsung dalam pertempuran yang cukup scngit itu. Ratusan, bahkan ribuan di antara kedua belah pihak terbunuh. Pengaruhnya dalam sejarah Islam cukup menentukan. Andaikata Abu Bakr ketika itu tunduk pada pihak yang tidak menyetujui perang, sebagai akibatnya niscaya kekacauan akan lebih meluas ke seluruh kawasan Arab, dan kedaulatan Islam tentu tidak akan ada. Juga jika pasukan Abu Bakr bukan pihak yang menang dalam perang itu, niscaya akibatnya akan lebih parah lagi. Jalannya sejarah dunia pun akan sangat berlainan. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan ketika orang mengatakan, bahwa dcngan posisinya dalam menghadapi pihak Arab yang murtad discrtai kemenangannya dalam menghadapi mereka itu, Abu Bakr telah mengubah arah sejarah dunia. Tangan Tuhan jugalah yang telah melahirkan kebudayaan umat manusia itu dalam bentuknya yang baru.
Pengaruh kemenangan Perang Riddah
Kalau tidak karena kemenangan Abu Bakr dalam Perang Riddah, penyerbuan ke Irak dan ke Syam tentu tidak akan dimulai, dan pasukan Muslimin pun tak akan berangkat dengan kemenangan memasuki kedua imperium besar itu, Rumawi dan Persia, untuk kemudian digantikan oleh kedaulatan Islam — di atas puing itu juga! Kebudayaan Islam telah menggantikan kedua pola kebudayaan itu. Lagi, kalau tidak karena Perang Riddah, dengan gugurnya sahabat-sahabat sebagai syahid yang memastikan kemenangan itu, niscaya tidak akan ccpat-cepat Umar menyarankan kepada Abu Bakr agar Qur'an segera dikumpulkan. Karena pengumpulan inilah pula yang menyebabkan adanya penyatuan bacaan menurut dialek Mudar pada masa Usman. Dengan demikian, Qur'an adalah dasar yang kukuh dalam menegakkan kebenaran, merupakan tonggak yang tak tergoyahkan bagi kebudayaan Islam. Selanjutnya, kalau
tidak karena kemenangan yang diberikan Allah kepada kaum Muslimin.
Riddah sebuah istilah dalam sejarah Islam, dari akar kata radda, irtadda, "bcrbalik ke bclakang", dalam istilah fikih "meninggalkan keyakinan, agama dsb." (Bd. Qur'an 3. 86-91; 16. 106 sqq). Orang yang melakukannya disebut murtadd seperti yang dikcnal dalam bahasa Indonesia. Perang riddah berarti perang melawan kaum murtad.'  dalam Perang Riddah itu, jangan-jangan Abu Bakr belum dapat menyusun suatu sistem pemerintahan di Medinah, yang di atas sendi itu pula kemudian Umar menggunakan asas musyawarah. Polanya keadilan dan kasih sayang, intinya kebajikan dan ketakwaan. Inilah peristiwa-peristiwa agung yang telah dapat diselesaikan dalam vvaktu singkat, tak sampai dua puluh tujuh bulan. Barangkali karena waktu yang sesingkat itu pula yang menyebabkan sebagian orang sampai merentang jarak begitu panjang hingga pada masa Umar, dengan anggapan bahwa jika hanya dalam beberapa bulan saja tidak akan cukup waktu orang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar yang sampai mengubah
jalannya sejarah dunia itu. Kalau saja mereka ingat, bahwa beberapa revolusi yang telah membawa umat manusia dari suatu kcadaan kepada keadaan yang lain selesai dalam waktu seperti itu, dan bahwa hukum alam sedikit demi scdikit tunduk pada prinsip-prinsip revolusi untuk meningkatkan umat manusia mencapai kesempurnaannya, tidaklah akan cepat-cepat mereka beralih dari masa revolusi rohani seperti yang dicetuskan olch Rasulullah ke seluruh dunia itu, ke kedaulatan Islam yang sudah tersebar ke scgenap penjuru dunia dan sudah juga menganut revolusi itu. Mereka tidak akan lama-lama berhcnti hanya sampai di situ, ketika orang-orang Arab itu mencoba hendak mengadakan pcrlawanan sebagai reaksi atas ajaran yang dibawa oleh Muhammad. Hal ini sudah menjadi bawaan manusia di mana dan kapan pun tatkala mereka hendak melawan setiap prinsip baru. Mereka mencoba memadamkannya, tetapi Allah akan tetap menyempurnakan cahayanya walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya.
Hubungan kebesarannya sebagai Khalifah dengan kebesarannya sebagai Sahabat
Bagaimana Abu Bakr dapat menghadapi scgala kcsulitan itu pada permulaan ia memegang pimpinan dan dia tetap bertahan, kemudian dapat mcngatasinya? Sesudah itu pula mulai ia merintis jalan menyebarkan agama dan membuat sebuah kedaulatan sementara kesulitan-kesulitan itu masih ada? Sudah tentu sifat pribadinya bcsar sekali pcngaruhnya.
Tetapi sifat-sifat itu saja tidak akan sampai ke tingkat yang sudah dicapainya itu kalau tidak karena persahabatannya dengan Rasulullah selama dua puluh tahun penuh itu. Oleh karena itu para ahli sejarah sepakat bahwa kebesaran Abu Bakr selama masa menjadi Khalifah itu erat sekali hubungannya dengan persahabatannya dengan Rasulullah. Selama dalam persahabatan itu ia telah menghirup jiwa agama yang dibawa oleh Muhammad, ia sepenuhnya mengerti maksud dan tujuannya, mengerti secara naluri, tidak dikacaukan oleh adanya kesalahan atau kcraguan. Apa yang telah dihirupkan dan dipaharainya dengan nalurinya itu ialah bahwa iman adalah suatu kekuatan yang tak akan dapat dikalahkan oleh siapa pun selama seorang mukmin dapat menjauhkan diri dari maksudmaksud tertentu selain untuk mencari kebenaran demi kebcnaran semata. Banyak memang orang yang dapat memahami kebenaran rohani
demikian ini pada setiap zaman, tetapi mereka menangkapnya dengan akal, sedang Abu Bakr menangkap semua itu dengan kalbunya, dengan matanya ia melihat bulat-bulat hidup dalam diri Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam dan dalam perbuatannya.
Teladan yang telah mengilhaminya
Iman yang sungguh-sungguh demi kebenaran itulah yang membuatnya menentang sahabat-sahabatnya dalam soal menghadapi golongan murtad waktu itu, dan bersikeras hendak memerangi mereka meskipun harus pergi seorang diri. Bctapa ia tak akan melakukan itu padahal ia sudah menyaksikan sendiri Nabi berdiri seorang diri mengajak orangorang di Mekah ke jalan Allah, tapi mereka ramai-ramai menentangnya. Lalu ia di bujuk dengan harta, dengan kerajaan dan kedudukan tinggi. Kemudian ia pun diperangi dengan maksud hendak membendungnya dari kebenaran yang dibawanya itu. Tidak, malah ia menjawab: "Demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah akan membuktikan kemenangan itu: di tanganku, atau aku binasa karenanya, tidak akan kutinggalkan!"
Kenapa ia tidak juga berbuat demikian padahal ia sudah menyaksikan Nabi akibat Perang Uhud, dan setelah kemenangan pihak Kuraisy atas pasukan Muslimin? Nabi kembali bersama-sama kaum Muslimin yang masih ada, yang pernah mcngalami Perang Uhud, dan sambil menunggu kedatangan Kuraisy ia bcrmarkas di Hamra'ul Asad dan tinggal di sana tiga hari, memasang api unggun sepanjang malam, sehingga semangat Kuraisy menjadi goyah dan mereka kembali ke Mekah. Dengan demikian kaum Muslimin telah dapat mcngembalikan kedudukannya sesudah mengalami kegoncangan di Uhud. Kenapa ia tidak berbuat serupa itu juga padahal ia pernah menyaksikan
sendiri pagi itu Nabi di Hunain, dengan jumlah sahabat yang sedikit ia memanggil-manggil anggota-anggota pasukan Muslimin yang berlarian: "Hai orang-orang! Kamu mau ke mana!? Mau ke mana?!" Dan orang yang beribu-ribu itu sedang diliputi ketakutan. Setelah mereka mengetahui posisi Nabi dan mendengar pula panggilan Abbas: "Saudarasaudara dari Ansar, yang tclah memberikan tempat dan pertolongan! Saudara-saudara dari Muhajirin yang telah membaiat di bawah pohon, Muhammad masih hidup, mari ke mari!" Dari scgenap penjuru terdengar jawaban yang menyerukan: "Ya, kami siap, kami siap!" Kini mereka semua kembali, dan bertempur lagi secara heroik sekali. Alangkah indahnya teladan itu, teladan yang telah mengilhami orang, bahwa iman adalah suatu kekuatan yang tak akan dapat dikalahkan oleh siapa pun selama seorang mukmin itu dapat menjauhkan diri dari maksudmaksud tertentu selain untuk mencari kebenaran demi kebenaran scmata! Siapakah orang yang memiliki iman seperti pada Abu Bakr itu, yang mengambil teladan dari Rasulullah, schingga ia menjadi salah satu unsur kehidupan yang sangat menentukan!? Inilah kekuatan rohani, yang dalam hidup ini tak ada yang dapat menguasainya, tiada kenal lemah atau ragu, dan tak ada yang akan dapat mengalahkannya.
Kekuatan rohani pada iman
Kekuatan rohani yang diperoleh Abu Bakr pada diri Rasulullah itu dan yang telah membuat kaum Muslimin dapat mengalahkan orang-orang Arab murtad, telah memberikan semangat kepada scgenap kaum Muslimin yang mengangkat mereka kepada keimanan, bahwa mereka tak akan mendapat kemenangan tanpa pertolongan Allah. Mereka mendambakan mati syahid, gugur demi kebenaran. Bagi mereka mati syahid itu suatu kemenangan yang tak ada taranya. Kita akan membaca dalam buku ini bukti-bukti demikian itu, yang dalam sejarah scdikit sekali bandingannya. Kaum Muslimin pada masa Rasulullah yakin sekali, bahwa mereka akan mendapat kemenangan, scbab Allah sudah menjanjikan kepada Rasul-Nya akan memberi bala bantuan dengan para malaikat. Tuhan telah mewahyukan kepadanya untuk membuktikan janji-Nya. Tetapi pada masa Abu Bakr, dengan berpulangnya Rasulullah ke sisi Allah, wahyu sudah tak ada lagi. Hanya tinggal iman saja lagi, hanya tinggal berteladan saja lagi kepada Rasulullah dan kepada penggantinya dalam meningkatkan iman ke taraf yang lebih tinggi selama hidup di dunia ini. Mati syahid demi membela iman telah menjadi sumber dan rahasia kekuatan, rahasia kemenangan. Itulah rahasia keluhuran budi kita dalam arti kcmanusiaan dengan segala martabatnya untuk mencapai kesempurnaan hidup insani yang terdapat dalam diri kita. Kenyataan rohani inilah yang telah memberi kekuatan batin kepada Abu Bakr dengan berteladan kepada Rasulullah. Ini diterjemahkan kepada kita dalam perbuatan Muslimin pada masa kepemimpinannya sebagai Khalifah serta bimbingannya yang begitu jelas sehingga dapat kita raba seolah semua itu benda nyata yang dapat ditangkap dengan indera. Kenyataan rohani ini dapat kita rasakan dalam Perang Riddah dan kemudian pada waktu memasuki Irak dan Syam. Kalau bukan karena keimanan ini, dengan jumlah kaum Muslimin yang masih kecil pada masa Khalifah yang pertama itu, niscaya mereka tak akan mampu menyelesaikan segala pekerjaan dan tugas raksasa itu dengan begitu baik, yang selanjutnya telah membukakan jalan ke sebuah kedaulatan Islam yang besar.
 Suatu kenyataan sosial setelah kenyataan rohani
Abu Bakr memperoleh kekuatan batinnya itu dengan berteladan kepada Rasulullah. Di samping kenyataan rohani ini, kenyataan social juga besar pengaruhnya dalam kehidupan setiap umat atau bangsa, dan setiap umat merasa bangga terhadap dirinya, dengan percaya kepada kekuatan sendiri. Mereka merasa, bahwa mereka mempunyai kewajiban menyimpan suatu risalah, suatu pesan kepada dunia, dan dunia pun wajib menyambut risalahnya itu. Seperti halnya dengan umat ini, tak ada suatu kekuasaan dan kekuatan betapapun besarnya yang boleh merintangi jalannya. Kedua kenyataan ini, rohani dan sosial, saling mengisi. Pada setiap zaman dan umat ada suatu dasar untuk mengambil hati bangsa-bangsa lain yang dengan penuh semangat menyambut kedua kenyataan itu dan demi berhasilnya risalah yang mengajak bangsa-bangsa itu. Lebih-lebih yang demikian ini apabila dasar risalahnya bertujuan memberantas kezaliman, memelihara keadilan yang didasarkan pada persamaan antara sesama manusia. Berapa sering sudah sebuah kedaulatan berdiri atas dasar itu juga dalam berbagai kurun sejarah dan berapa sering pula imperium demikian itu mengalami kehancuran karena ia sudah menyimpang dari jalur yang sebenarnya. Oleh karena itu penyimpangan demikian ini oleh pihak lawan dijadikan senjata untuk mengadakan perlawanan.
Ia sadar dan yakin, Islam agama persamaan Persamaan adalah pola Islam dan olch karenanya ia merupakan inti
kedaulatannya. Kenyataan ini sekarang kita pahami dengan pikiran kita seperti yang banyak dipahami orang dulu juga. Kemudian mereka tidak dapat mempertahankan kedaulatan itu seperti juga kita sekarang, karena hal-hal tertentu atau karena di luar kehendak kita. Tetapi Abu Bakr, dengan nalurinya ia sudah dapat memahami dan benar-benar yakin ia akan hal itu. Maka didorongnya umat Islam agar melaksanakan, dan mereka pun dapat membuktikan dan tetap berlangsung selama beberapa abad dan generasi. Dengan nalurinya Abu Bakr memahami benar bahwa pada intinya yang paling dalam Islam adalah agama persamaan antar sesama umat manusia. Dakwah atau seruan itu tidak hanya ditujukan kepada golongan tertentu saja, tetapi kepada umat manusia seluruhnya. Pada masa hidupnya Rasulullah telah mengangkat bekas-bekas budak kc suatu kedudukan yang tinggi. Begitu juga orang-orang yang bukan Arab untuk memerintah di kalangan Arab. Salman orang Persia adalah sahabat dekatnya, Zaid bin Harisah, bekas budak yang pernah dibeli oleh Khadijah lalu diberikan kepada Nabi yang kemudian oleh Nabi dimerdekakan
dan dijadikan anak angkat. Dia jugalah yang di angkat menjadi panglima dalam Perang Mu'tah, dan sebelum itu pun banyak pekerjaan lain yang berada di bawah pimpinannya. Sesudah itu, sebelum Rasulullah menderita sakit yang terakhir, Usamah anak Zaid itu diserahi pimpinan pasukan, yang anggota-anggotanya terdiri dari pemuka-pemuka Muhajirin dan Ansar, di antaranya Abu Bakr dan Umar. Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam telah mengangkat Bazan orang Persia itu memegang pimpinan di Yaman. Rasulullah tidak membeda-bedakan kedudukan orang karena kearabannya atau karena posisinya dalam kabilah. Yang membedakan orang hanyalah amal perbuatannya. Sahabat-sahabat Rasulullah yang diajaknya bermusyawarah dan pendapatnya dihargai di kalangan Muslimin adalah pemuda-pemuda, yang karena keimanannya yang sungguh serta pengorbanannya di jalan Allah, mereka berada di barisan pertama. Sikap Rasulullah ini sesuai dengan perintah Allah di dalam Qur'an, bahwa tak ada perbedaan pada manusia itu selain takwanya, dan balasan yang akan diperoleh sesuai dengan amal perbuatannya. Perbedaan derajat yang satu dengan yang lain, hanya oleh perbuatan dan ketakwaan itu juga. Sudah tentu, cara yang dilakukan oleh Rasulullah itu banyak sekali mengurangi kecongkakan orang-orang Arab karena fanatisma rasialnya, kalaupun mereka hendak membangga-banggakannya juga, apalagi karena Allah telah memilih Nabi-Nya dari kalangan mereka sendiri, yang
akan mereka jadikan alasan akan tingginya kedudukan mereka. Juga Abu Bakr, sudah tentu yang dijadikan pegangannya ialah persamaan dalam Islam antara sesama manusia dan bangsa itu. Inilah yang telah menjadi kekuatannya, sehingga pasukan Persia dan pasukan Rumawi bertekuk lutut.
Pada dasarnya Islam kedaulatan sejagat
Abu Bakr dengan nalurinya sudah menyadari benar bahwa dasar Islam adalah kedaulatan sejagat. Seruannya tidak tcrbatas hanya pada golongan Arab, tetapi ajakan kepada kebenaran itu ditujukan kepada seluruh umat manusia. Karena memang sudah demikian keadaannya, Nabi telah mengirimkan para utusannya kepada raja-raja dan pcnguasa, mengajak mereka sama-sama menerima agama Allah. Sudah menjadi kewajiban setiap orang yang beriman kepada agama ini untuk berdakwah, menyampaikan ajaran-Nya sebagai petunjuk dan rahmat. Dalam diri
Rasulullah sudah ada teladan yang baik bagi setiap Muslim. Rasulullah telah menyerukan dakwahnya kepada segenap umat manusia yang terdiri dari berbagai warna kulit. Para penggantinya hendaknya juga menyebarkan
seruan itu ke segenap belahan bumi ini. Biarlah mereka berjuang demi kebebasan berdakwah. Jangan memaksa siapa pun dan jangan juga mau dirintangi dalam menyampaikan kebenaran yang sudah mereka peroleh itu. Hendaklah seluruh jagat ini menjadi arena dakwah kepada kebenaran, apa pun risiko yang akan menimpa diri mereka demi perjuangan di jalan Allah itu. Bila sampai mereka mati syahid, Allah jugalah yang akan memberi balasan. Prinsip-prinsip inilah yang menjadi dasar dakwah Rasulullah, yang telah dipahami benar oleh Abu Bakr dengan nalurinya, berkat persahabatannya selama itu serta pelajaran-pelajaran yang diterimanya dari Rasulullah. Itulah yang menyebabkan Abu Bakr begitu menerima tugas, segala kesulitan itu buat dia tidak berarti lagi dan ia tetap berusaha mengatasinya, dan itu juga yang membuat kedaulatan Islam cepat berkembang ke segenap penjuru dunia dan kemudian banyak bangsa yang bernaung di bawah panji Islam. Generasi demi generasi kebudayaan bangsa-bangsa itu terus menyebar di dunia. Kemudian menjadi tua, seperti biasanya semua bangsa dan imperium itu harus berangsur tua. Kemudian jatuh tertidur, nyenyak, lama sekali tidurnya, yang selanjutnya disambung oleh kematian seorang demi seorang.
Apa penyebab jatuhnya kedaulatan Islam?
Adakah yang menyebabkan ketuaan dan kemudian tidur nyenyak yang panjang itu karena prinsip dasar tadi yang terbukti rapuh, ataukah karena bangsa-bangsa yang sudah lepas dari kedaulatan Islam karena sudah menolak prinsip-prinsip itu, lalu menganut yang sebaliknya lalu menjadi lumpuh dan akhirnya lenyap karena perbuatannya sendiri? Begitulah sejarah semua kedaulatan Islam itu, sejak berdirinya, kebesarannya dan kemudian keruntuhannya. Itulah sejarah yang patut dicatat dengan metoda serta studi yang benar-benar ilmiah dan dapat di percaya, lepas dari segala sikap fanatisma. Peristiwa demi peristiwa itu dianalisis dan dicari sebab-sebabnya yang dapat diterima akal serta sesuai dengan kecenderungan rohani yang ingin mencapai kesempurnaan. Namun begitu suatu hal yang sudah menjadi kodrat manusia ialah kita masih terkungkung oleh nafsu kita pada kehidupan dunia. Dengan demikian kita
makin jauh dari tujuan hendak mencapai kesempurnaan itu. Rasanya tak perlu lagi saya menyebutkan bahwa kelumpuhan dan tidur nyenyak ini disebabkan oleh bangsa-bangsa yang lepas dari kedaulatan Islam itu sudah meninggalkan prinsip-prinsip dasar yang sebenarnya sudah menjadi pegangan kedaulatan Islam, prinsip-prinsip Islam yang dasarnya masih murni. Seorang peneliti sejarah kedaulatan Islam yang adil dan obyektif akan dapat meraba dan melihatnya dengan jelas rentetan perkembangannya sejak mula timbulnya perselisihan di kalangan umat Islam penduduk jazirah itu, sampai terjadinya perpecahan antara yang Arab dengan yang bukan-Arab, yang kemudian menjelma menjadi jurang yang mcnganga lebar-lebar menjurus pada kehancuran.
Saya tertarik menulis sejarah Abu Bakr
Baik secara terinci atau dengan ringkas sudah tentu pengantar ini tidak akan memadai untuk menguraikan semua persoalan itu. Kiranya cukup dengan isyarat ini saja. Saya hanya akan membatasi pada masa yang pendek ini tapi sungguh agung — yakni masa Abu Bakr as-Siddiq. Saya akan mencatat apa yang saya rasa sangat menggairahkan selama saya menulis biografi ini. Besar sekali harapan saya, apa yang akan saya tulis tentang orang ini sudah akan memenuhi hasrat hati akan kebenaran, serta mencapai apa yang saya inginkan dalam melukiskan bentuk yang hendak saya coba secermat mungkin: sebuah kehidupan yang masa lampau tampak jelas dalam wajah masa sekarang. Saya akan mcngatakan apa yang saya inginkan, sebab saya selalu merasa bahwa wajah ini masih mengandung kekurangan yang tidak sedikit, yang karena beberapa sebab, saya sendiri pun belum sampai ke sana.
Rasanya saya akan bertambah gembira jika buku ini dapat menerjemahkan ke dalam hati pembaca wajah yang jelas mengcnai masa (periode) Abu Bakr, teman kcsayangan (al-khalil) dan teman dekat Rasulullah. Keinginan saya ini mungkin terasa agak bcrlebihan. Masa Abu Bakr — seperti saya sebutkan di atas — merupakan gambaran tersendiri
dalam bentuknya yang lengkap. Orang dapat melihatnya dari sela-sela buku sejarah tentang dirinya yang pernah dilukiskan orang begitu gemilang, sempurna dan integral. Tetapi untuk sampai ke batas wajah yang integral itu diperlukan suatu upaya yang terus-menerus dari generasi ke generasi. Juga perlu penelitian dari pelbagai seginya. Belum ada lagi suatu upaya mengenai Abu Bakr dan masanya yang agak integral. Suatu studi baru masih tetap diperlukan dengan pembahasan yang lebih mendalam, memperbandingkan zaman masa Abu Bakr itu dcngan masa
kehidupan bangsa-bangsa yang punya pengaruh pada zaman itu. Saya yakin usaha semacam ini dalam waktu dekat akan dilanjutkan orang dan akan ada kerja sama dalam mengungkapkan wajah masa itu dengan lebih terinci, jelas dan selengkap mungkin. Untuk masa Abu Bakr upaya demikian sangat diperlukan melebihi masa-masa yang lain. Sumber-sumber lama dalam bahasa Arab yang bicara tentang Abu Bakr dan masanya masih sering kacau, sehingga
rangkaian peristiwa demi peristiwa yang diceritakan itu sukar diikuti. Di sisi lain, tidak sedikit pula catatan-catatan peristiwa itu yang lebih dekat pada dongeng daripada sejarah. Dalam memperbandingkan sumbersumber itu diharapkan orang akan dapat memperoleh bahan-bahan yang dapat membantunya dalam meneliti peristiwa-peristiwa itu, tetapi sumbersumber yang datang berturut-turut untuk beberapa peristiwa itu sering membuat orang jadi bingung. Mau tak mau ia harus menelitinya kembali dengan membuat catatan bahwa pekerjaan itu masih patut diragukan.
Kacaunya sumber para ahli sejarah dapat dimaklumi
Saya berpendapat kckacauan sumber-sumber para ahli sejarah dahulu itu yang akibatnya berlanjut sampai pada upaya mereka yang dating kemudian, bahkan sampai masa kita sekarang ini, dapat dimaklumi. Masa itu, ketika Abu Bakr memegang pimpinan umat Islam adalah masa yang benar-benar penuh perjuangan. Mereka yang beriman kepada Allah dan kepada Rasulullah sedang memikul beban yang amat berat untuk mendukung dakwah agama Allah serta ajaran-ajaran Rasulullah. Mereka semua serentak terjun ke medan perjuangan, berjuang di jalan Allah. Mereka terjun langsung ke kancah peperangan, membunuh atau dibunuh. Buat mereka kehidupan dunia dengan segala kenikmatannya itu tak ada artinya. Tidak apa memilih hidup menderita, tabah menghadapi segala cobaan. Mereka sudah menyerahkan hidup mereka untuk Allah, dan untuk semua itu tanpa mengharapkan balasan selain pahala Yang Mahakuasa. Buat mereka sudah tak ada lagi waktu senggang atau saat-saat santai. Tak ada di antara mereka yang memikirkan apa yang terjadi kemarin karena untuk hari esok memerlukan pekerjaan yang lebih banyak
dari kemarin. Itulah sebabnya tak ada waktu buat mereka mencatat sccara teratur scgala peristiwa besar yang terjadi masa itu. Baru kemudian beritaberita itu disampaikan orang secara berantai. Sesudah itu mcreka tak dapat lagi menyampaikan dan meneruskan berita itu seperti keagungan yang terjadi pada masa Rasulullah. Ya, bagaimana akan dapat mereka lakukan dalam kesibukan mcreka yang terus-menerus dalam menyiarkan agama serta menyusun kedaulatan Islam yang makin hari bertambah luas itu.
Oleh karena itu, bagi penulis sejarah masa itu mau tak mau harus menguji dan memperbandingkan sumber-sumber itu sambil mencari kebenaran yang terdapat di dalamnya. Pekerjaan dengan cara seperti yang telah diusahakan mereka dahulu itu bukan main beratnya. Dengan tidak mengurangi penghargaan serta penghormatan kita atas usaha itu, namun mereka belum dapat mengungkapkan kekuatan yang ada pada masa Abu Bakr dan pemcrintahannya dalam bentuk yang begitu jelas, memesonakan sekaligus mengagumkan dan luar biasa.
Contoh kacaunya referensi
Kita lihat misalnya buku-buku acuan yang kita pergunakan dalam buku ini. Bab demi bab dapat kita baca untuk mengetahui sampai berapa jauh kecermatan seperti yang kita sebutkan itu. Bcberapa buku acuan itu hanya sclintas saja menyinggung masalah-masalah yang begitu penting, yang oleh sumber-sumber lain diuraikan dengan terinci.
Sampai-sampai para ahli sejarah semacam Tabari, Ibn Kasir dan Balazuri misalnya, samasekali tidak menyinggung soal pengumpulan Qur'an. Padahal peristiwa pengumpulan Qur'an itu pekerjaan besar dan penting yang harus menghiasi masa Abu Bakr, meskipun bukan yang terbesar. Mengenai peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan Perang Riddah, pembebasan Irak dan Syam, para sejarawan itu masih saling berbeda pendapat. Bahkan berita-bcrita yang saling bertentangan itu terdapat dalam satu kitab yang sama, sehingga orang akan menjadi bingung mana
berita yang boleh dipercaya dan mana yang tidak.
Sulit mengikuti peristiwa dalam urutan waktu
Perbedaan waktu ketika peristiwa-peristiwa itu terjadi tidak pula kurang pentingnya dengan perbedaan penggambaran peristiwa-peristiwa itu. Mengenai waktu terjadinya peristiwa itu sering pula masih bersifat untung-untungan, tidak didasarkan pada suatu patokan yang sccara cermat boleh dijadikan pegangan. Juga perbandingan suatu peristiwa dengan peristiwa yang lain masih sangat membingungkan. Tabari misalnya, ia menyebutkan bahwa Perang Riddah itu terjadi pada tahun sebelas Hijri dan masuk ke Irak pada tahun dua belas sedang kc Syam dilakukan dalam tahun tiga belas. Membaca rentetan waktu yang berturut- turut itu orang akan menduga bahwa perang Irak baru dimulai setelah Perang Riddah usai dan masuk ke Syam setelah keadaan di Irak stabil. Tetapi bila peristiwa demi peristiwa serta kejadian-kejadian itudiperiksa agak teliti orang akan jadi ragu mengenai terjadinya rentetan demikian itu. Tetapi bila kita teliti lebih dalam lagi akan tcrnyata bahwa peristiwa Irak itu terjadi sementara Perang Riddah masih berlangsung, sedang terjadinya penaklukan Syam scusai Perang Riddah. Sementara itu pasukan Khalid bin Walid masih giat mengatur keamanan dan ketertiban di Irak dan sedang bcrsiap-siap menghadapi peperangan baru.
Juga dalam urutan geografi
Tidak hanya sampai di situ saja yang dapat menimbulkan kebingungan. Dalam arti urutan geografi ketika mengikuti peristiwa demi peristiwa orang sering terbentur. Bahkan masih ada bebcrapa sumber yang saling bertentangan schubungan dengan urutan itu, untuk tidak menyebut adanya nama-nama tempat yang berubah-ubah dan ada pula
yang hampir sama, yang juga dapat menimbulkan kebingungan baru. Beberapa Orientalis pernah menerbitkan peta-peta Idrisi yang lama seperti apa adanya, lalu dilampiri dengan peta-peta buatan mereka sendiri seperti yang biasa kita kenal. Hal ini membuat kita lebih mudah mengenali tempat-tempat dan peristiwa-peristiwa itu masing-masing. Kalaupun hal ini dapat memudahkan kita mengadakan penelitian, yang tadinya memang cukup sulit, namun keraguan tetap ada sehubungan dengan beberapa sumber, yang sebenarnya memang sukar dapat dipercaya. Oleh karena itu beberapa sejarawan masih maju mundur menghadapi masa Abu Bakr itu, karena apa yang mereka baca hampir tak dapat mereka percayai. Mereka yang menulis sejarah Islam itu seolah mau menghindari hal-hal semacam itu semua, atau cukup dengan isyarat saja scdikit mengenai masa Abu Bakr itu, tak sampai memberikan suatu gambaran yang lengkap, yang akan dapat mengungkapkan kejayaan masa itu dan dampak yang sangat menentukan dalam sejarah Islam serta lahirnya sebuah kedaulatan Islam. 
Hanya sedikit sumber yang menyinggung peranan Abu Bakr
Sumber-sumber demikian terasa makin kacau karena tidak bicara tentang Abu Bakr masa pemerintahannya seperti ketika bicara tentang Khalid bin Walid serta panglima-panglima lain yang memasuki Syam dan tinggal di sana menunggu kedatangan Khalid dari Irak, kcmudian bersama-sama menaklukkan Damsyik dan dengan bakat perangnya ia menghancurkan semua kekuatan moral pihak Rumawi. Mcmbaca kitabkitab acuan semacam ini orang akan membayangkan seolah Abu Bakr hanya tinggal di Medinah, tak bekerja apa-apa selain beribadah. Inilah kesalahan yang sungguh fatal. Padahal semua yang terjadi pada masa Abu Bakr, Abu Bakr-lah jiwa dan penggcraknya. Di atas sudah kita singgung apa yang terjadi dengan Abu Bakr di satu pihak, dan Umar serta sebagian kaum Muslimin di pihak lain mengenai perbedaan pendapat dalam menghadapi golongan murtad dan mereka yang menolak melaksanakan zakat. Betapa ia begitu gigih hcndak menghadapi mcrcka walaupun seorang diri. Dalam buku ini akan kita lihat, bahwa sebenarnya dialah yang telah mendorong Khalid bin Walid untuk pergi ke Irak memperkuat pasukan Musanna bin Harisah asy-Syaibani dan dia juga yang berseru kepada semua penduduk Arab di seluruh Semenanjung itu agar membebaskan Syam.
Setelah Abu Ubaidah serta pasukannya mengalami kelambatan untuk memasuki Syam, dia jugalah yang mengerahkan Khalid bin Walid untuk membantu mereka. Dalam pada itu dia juga yang mcngorganisasi pembentukan baitulmal serta mengatur distribusi harta rampasan perang di kalangan umat Islam, melakukan pengangkatan para gubernur serta mengawasi pckerjaan mereka. Begitu besar perhatiannya dicurahkan pada masalah-masalah negara dan administrasinya, sehingga semua pikiran di luar itu, baik mengenai pribadinya ataupun soal keluarga, dikesampingkan. Dalam mcncurahkan perhatian untuk kepentingan negara, dari soal yang kecil sampai ke soal yang besar, dialah yang berhasil menyelesaikan dalam waktu relatif pendek, suatu pekerjaan yang tidak akan dapat diselesaikan orang dalam waktu bertahun-tahun. Malah sedikit sekali orang yang akan mampu menyelesaikan. Barangkali masih ada sebab lain yang cukup berpengaruh di samping yang kita kemukakan di atas mengenai sikap para sejarawan itu terhadap Abu Bakr dan zamannya. Mereka mengira, bahwa persahabatannya dengan Rasulullah selama dua puluh tahun itu, dan yang menjadi pilihan Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam sehingga Rasul berkata: Kalau ada dari hamba Allah yang akan kuambil sebagai khalil (teman kesayangan), maka Abu Bakr-lah "khalil-ku" — mereka mengira bahwa semua itu lebih penting daripada prestasinya selama masa kekhalifahannya. Mcmang sudah tak perlu disangsikan lagi bahwa kedudukan Abu Bakr di samping Rasulullah dalam penilaian kita merupakan dampak yang amat tinggi dan cemerlang; tetapi kekhalifahan Abu Bakr adalah sebuah lingkaran yang telah melengkapi dan menjadi mahkotanya sejarah yang agung itu.
Tugas kekhalifahannya tidak kurang dari persahabatannya
Pekerjaan Abu Bakr dalam kekhalifahannya tak kurang besarnya dari persahabatannya dengan Rasulullah. Bahkan pada masa kerasulannya dia adalah salah seorang dari dua orang itu (ketika keduanya berada dalam gua). Pertama, Allah telah memilihnya dalam kenabian dan mengutamakannya dalam menyampaikan risalah serta mewahyukan Qur'an kepadanya sebagai penjelasan dan petunjuk serta pemisah antara yang benar dengan yang batil. Beban yang dipikul oleh Abu Bakr pada waktu kerasulan itu adalah beban seorang pengikut yang penuh iman, yang kekuatan imannya kepada Allah dan kepada Rasulullah tak pernah goyah. Bahkan beban yang dipikulnya setelah Rasulullah berpulang ke rahmatullah, adalah beban yang dipikulnya sendiri sebagai manusia pertama di kalangan Muslimin dan sebagai pengganti (Khalifah) Rasulullah. Bukan lagi ia seorang pengikut yang ikut bicara dalam musyawarah, melainkan sebagai seorang pemimpin yang diikuti sahabatsahabatnya dengan memberikan pendapat kepadanya seperti halnya ia sendiri dulu bersama-sama sahabat-sahabat yang lain memberikan pendapat kepada Rasulullah. Beban itu dipikulnya dengan penuh iman, penuh amanah dan kejujuran. Allah telah memberikan balasan kepadanya dan kepada kaum Muslimin dengan sebaik-baikriya. Jika kejujuran Abu Bakr dalam bersahabat dengan Rasulullah merupakan suatu manifestasi kebesaran insani yang didasarkan pada keimanan yang murni sebagai sandarannya yang kukuh, maka pengabdian Abu Bakr selama dalam kekhalifahannya untuk membela agama, untuk melakukan dakwah serta membangun kedaulatan Islam, tidak pula kurang agungnya dari persahabatannya dengan Rasulullah,
disertai keimanan yang sungguh-sungguh kepadanya dan kepada segala yang diwahyukan Allah kepadanya. Oleh karena itu sejarah kekhilafahan (pemerintahan) Abu Bakr patut sekali dibahas secara lebih terinci.
Pengaruh kacaunya sumber pada para sejarawan
Kekacauan bahan acuan atau sumber-sumber, terpengaruhnya penggambaran masa Khalifah pertama oleh unsur-unsur yang kebanyakan tak dapat diterima oleh kritik sejarah yang sebenarnya, itulah pula yang kita lihat pengaruhnya dalam buku-buku para penulis dulu. Kemudian pengaruh itu berpindah kepada mereka yang datang kemudian, yang mengambil bahan dari sana dan berusaha hendak menyimpulkan wajah yang sebenarnya itu bulat-bulat. dalam buku-buku mereka. Begitu besar pengaruh itu pada beberapa penulis yang datang kemudian, sehingga membuat mereka hanya sepintas lalu saja melihat masa Abu Bakr, lalu cepat-cepat melangkah ke masa Umar. Di sini mereka lama berbicara berpanjang-panjang. Bahkan sampai ada di antara mereka yang membuat perbandingan antara masa Abu Bakr dengan masa Umar itu untuk melihat mana yang lebih besar jasanya. Perbandingan demikian ini tidak pada tempatnya untuk kedua tokoh tersebut, yang masing-masing menyandang kebesarannya sendiri, kebesaran yang jarang sekali dicapai oleh seorang politikus atau penguasa dalam sejarah dunia secara kescluruhan. Bahwa masa Umar adalah masa yang paling besar dalam sejarah Islam, sudah jelas. Pada masa itu dasar kedaulatan negara sudah stabil, sistem pemerintahan sudah teratur, panjipanji Islam sudah berkibar di Mesir dan di luar Mesir yang dibanggakan oleh Rumawi dan Persia. Tetapi masa Umar yang agung itu berutang budi kepada masa Abu Bakr dan sebagai penerusnya. Sama halnya dengan kekhalifahan Abu Bakr yang berutang budi kepada masa Rasulullah
dan sebagai penerusnya pula.
 Usaha Orientalis dan sejarawan Islam
Studi-studi yang sudah pernah diadakan serta buku-buku yang ditulis orang mengcnai Abu Bakr dan masanya pada saat-saat terakhir sudah lebih teliti dan jujur tampaknya. Sudah menjadi kewajiban saya juga jika saya memuji inisiatif kalangan Orientalis dengan ketelitian dan kejujurannya itu, di samping adanya sebagian mereka yang masih penuh prasangka, terdorong oleh rasa fanatisma agama. Abbe de Marigny dalam abad kedelapan belas misalnya, sudah menulis buku mengenai pengganti-pengganti Muhammad ini, dan Caussin de Perceval pada awal abad kesembilan belas menulis Essai sur I'Histoire des Arabes dan dalam tahun 1883 buku Sir William Muir Annals of the Early Caliphate
sudah pula terbit. Sejak masa itu sampai waktu kita sekarang kalangan Orientalis di Jerman, di Inggris, di Itali dan di Prancis serta di negara-negara lain tetap mempelajari dengan saksama masa-masa tertentu dalam sejarah Islam di pelbagai tempat di seluruh dunia. Kalau saya sudah menyebutkan usaha para Orientalis, maka sudah menjadi kewajiban saya pula menyebutkan upaya para sejarawan Islam dan Arab, dengan sikap mereka yang jujur mengenai masa Abu Bakr di samping kecermatan yang mereka lakukan. Sejak beberapa tahun yang lalu Rafiq al-Azm telah menulis sejarah masa itu dalam jilid satu bukunya Asyhar Masyahiril-Islam. Dalam beberapa kejadian ia banyak terpengaruh oleh cara-cara para penulis lama. Almarhum Syaikh Muhammad al-Khudari pada penutup ceramahnya
mengatakan: "Dalam hal ini kita ingin mengatakan tegas-tegas: Kalau bukan Abu Bakr dengan kemauannya yang keras, dengan inayat dan bantuan Allah juga, sejarah umat Islam tidak akan berjalan seperti yang kita kenal sekarang ini. Ia menghadapi semua itu saat pikiran dan perasaan semua kaum Muslimin — yang kuat dan yang paling tabah
sekalipun — sedang didera oleh rasa kebingungan yang luar biasa." Dalam jilid satu bukunya Khulafa' Muhammad ("Pengganti-pengganti Muhammad"), Umar Abun-Nasr mengkhususkan pembicaraan mengenai Abu Bakr dan masanya. Begitu juga almarhum Syaikh Abdul Wahhab an-Najjar dan yang lain dari kalangan sejarawan mengadakan pembahasan mengenai masa ini, yang sebenarnya patut sekali kita hargai.
 Harapan
Sekarang setelah Tuhan mcluluskan saya menulis buku ini, masihkah akan ditakdirkan juga saya meneruskan dengan yang kedua, mengenai masa Umar, ketiga dan keempat, sehingga dapat saya selesaikan apa yang selama ini tersimpan dalam pikiran saya hendak melakukan studi mengenai sejarah kedaulatan Islam itu? Hanya Allah juga yang tahu. Tetapi sudah saya putuskan bahwa saya akan meneruskan penulisan mengenai masa Umar. Hanya saja antara keputusan dengan pelaksanaan ada jarak, yang saya harapkan Allah akan memberikan kemudahan kepada saya, dengan penuh kepercayaan pada firman-Nya ini:
"Dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan lentang sesuatu: "Aku akan melakukannya besok. " Kecuali (dengan menambahkan) "Insya Allah jika Allah menghendaki. " Dan ingatlah Tuhanmu bila engkau lupa, dan berkatalah: Semoga Tuhanku membimbingku lebih dekat daripada ini ke jalan yang benar. " (Qur'an, 18. 23-24).
Saya sudahi pengantar ini dengan permohonan kepada Allah semoga para ulama, para sarjana dan para peneliti dalam mengikuti kehidupan  Abu Bakr serta masa kekhalifahannya itu diluluskan, sehingga dengan penelitian mereka itu wajah yang hendak saya lukiskan dalam buku ini dapat terlaksana. Saya bersyukur kepada Allah atas taufik yang telah dikaruniakan-Nya kepada saya dalam usaha ini. Segala petunjuk dan taufik hanya dari Allah dan segalanya akan kembali kepada-Nya.

Masa kecil dan terbatasnya berita
Sumber-sumber yang sampai kepada kita mengenai masa kecil Abu Bakr tidak banyak membantu untuk mengenai pribadinya dalam situasi kehidupan saat itu. Cerita sekitar masa anak-anak dan remajanya tidak juga memuaskan. Apa yang diceritakan tentang kedua orangtuanya tidak lebih daripada sekedar menyebut nama saja. Setelah Abu Bakr menjadi tokoh sebagai Muslim yang penting, baru nama ayahnya disebut-sebut. Ada pengaruh Abu Bakr dalam kehidupan ayahnya, namun pengaruh ayahnya dalam kehidupan Abu Bakr tidak ada. Tetapi yang menjadi perhatian kalangan sejarawan waktu itu justru yang menyangkut kabilahnya serta kedudukannya di tengah-tengah masyarakat Kuraisy. Tak bedanya mereka itu dalam hal ini dengan sejarah Arab umumnya. Dengan melihat pertaliannya kepada salah satu kabilah,1 sudah cukup untuk mengetahui watak dan akhlak mereka. Adakalanya yang demikian ini baik, dan kadang juga mereka yang percaya pada prinsip keturunan
itu berguna untuk menentukan kecenderungan mereka, kendati yang lain menganggap penilaian demikian sudah berlebihan, dan ini yang membuat mereka tidak cermat dalarn meneliti.

Kabilahnya dan kepemimpinannya
Abu Bakr dari kabilah Taim bin Murrah bin Ka'b. Nasabnya bertemu dengan Nabi pada Adnan. Setiap kabilah yang tinggal di Mekah punya keistimewaan tersendiri, yakni ada tidaknya hubungannya dengan sesuatu jabatan di Ka'bah. Untuk Banu Abd Manaf tugasnya siqayah Kabilah atau suku merupakan susunan masyarakat Arab yang berasal dari satu moyang, lebih kecil dari sya'b dan lebih besar dari 'imarah, kemudian berturut-turut batn, 'imarah dan fakhz

BEKAS PERANG RIDDAH

BEKAS PERANG RIDDAH
Pembangkangan di selatan Semenanjung
Di bagian selatan pembangkangan kepada Abu Bakr dan yang
murtad dari Islam masih marak. Karenanya masih timbul kontak senjata
antara pasukan Muslimin dengan kawasan selatan ini, meskipun tak
berlangsung lama. Kalau kita menyebut bagian selatan berarti separuh
tanah Arab, dan ini tak boleh dianggap enteng. Kawasan yang separuh
ini menyusuri pantai sepanjang Teluk Persia ke Teluk Aden, Laut Merah
sampai ke utara Yaman. Di sini terletak kerajaan-kerajaan kecil terdiri
Peta Perang Riddah
Berdasarkan peta The Cultural Atlas of Islam oleh Isma'il R. al-Faruqi.
dari Bahrain, Oman, Mahrah, Hadramaut, Kindah dan Yaman. Orang
tak akan dapat melintasi kerajaan-kerajaan ini dari timur ke barat atau
dari barat ke timur tanpa harus melewati daerah itu semua, dan letaknya
pun berurutan sepanjang pantai kedua teluk dan Laut Merah itu.
Selain Yaman, semuanya bukan negeri kaya. Jaraknya hanya beberapa
mil antara perbatasan itu dengan pantai. Selebihnya, bagian selatan Semenanjung
yang dikelilingi kerajaan-kerajaan itu dan terpisah dari laut,
ialah pedalaman Dahna', yang pada waktu itu merupakan gurun yang
berbahaya, bahkan sampai waktu kita dewasa ini. Sekarang kawasan itu
disebut ar-Rub'ul Khali.
Pengaruh Persia di negeri-negeri yang bergolak
Jika demikian letak negeri-negeri itu mudah sekali kita memahami
adanya hubungan itu dengan Persia. Sebaliknya, betapa sulitnya melintasi
kawasan itu ke negeri-negeri Arab di bagian utara. Melintasi
Dahna' tidak mungkin. Yang datang dari Hijaz ke Oman, Kindah atau
Hadramaut, perjalanan ke daerah-daerah itu harus melalui Bahrain di
sebelah timur atau melalui Yaman di sebelah barat. Karena letak geografisnya
yang demikian rupa hubungan kawasan ini dengan Persia jadi
terbuka, bahkan sampai dikuasai, hal yang tak mungkin akan terjadi dengan
negeri-negeri Arab yang lain.
Di atas sudah kita singgung bahwa Yaman masih berada di bawah
kekuasaan Persia. Setelah Bad-han masuk Islam, yang sebelum itu gubernur
Persia di Yaman, oleh Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam ia dibiarkan
dalam tugas dan kekuasaan itu. Di Bahrain dan Oman kekuasaan
Persia lebih menonjol lagi dengan besarnya jumlah orang Persia yang
menetap di kedua wilayah itu. Mereka ini menjadi pihak yang berkuasa
atas penduduk daerah itu. Setiap dikhawatirkan terjadinya pemberontakan
orang-orang Arab yang ingin melepaskan diri dari pengaruh
Persia itu, atau usaha untuk menumbangkan kekuasaan mereka di kawasannya
tersebut, pihak Persia selalu memberi bantuan kepada orangorangnya
di sana dengan pengaruh dan senjata. Dengan demikian tidak
heran jika negeri-negeri itulah yang terakhir menyatakan diri masuk Islam,
yaitu dalam Tahun Perutusan pada masa Rasulullah, dan yang pertama
pula menjadi murtad setelah Nabi wafat. Seterusnya mereka ini pulalah
yang terakhir kembali kepada Islam setelah terjadi perang mati-matian
mengakhiri perang-perang Riddah itu. Sesudah itu, kesatuan agama dan
kesatuan politik negeri-negeri Arab kawasan ini kembali stabil.
Laporan sumber-sumber itu tidak sama, kapan sebenarnya perang
Riddah di kawasan ini terjadi: pada tahun kesebelas Hijri seperti di168
sebutkan, ataukah pada tahun kedua belas. Rasanya tak perlu kita mempersoalkan
perbedaan ini. Yang pasti, sejak dibaiatnya Abu Bakr terjadi
pergolakan sambung-menyambung sebelum semua negeri Arab itu ditundukkan.
Kawasan selatan ini pun kemudian melaksanakan kebijaksanaan
Abu Bakr juga. Keimanan mereka sudah begitu kuat, tekad
mereka dalam perjuangan pun cukup mantap. Mereka juga ingin memperoleh
dan mati syahid seperti sahabat-sahabat Rasulullah yang mulamula
dahulu. Melihat letak geografis kawasan itu, mau tak mau langkah Muslimin
harus dimulai dengan membasmi segala pemurtadan di daerahdaerah
itu dengan melangkah dari Bahrain ke Oman, seterusnya ke
Mahrah sampai ke Yaman, atau dari Yaman ke Kindah lalu ke Hadramaut
sampai ke Bahrain. Tetapi mereka lebih menyukai dimulai dari
Bahrain sebab tempat ini bertetangga dengan Yamamah, dan kemenangan
mereka di Aqriba' besar sekali pengaruhnya di kawasan itu, di
samping memang lebih mudah daripada dari Yaman. Dengan dimulai
dari sana, harapan memperoleh kemenangan seperti itu di negeri-negeri
tetangga lainnya lebih besar.
* * *
Menghadapi kaum murtad di Bahrain
Sungguhpun begitu, perjuangan Muslimin untuk membasmi kaum
murtad di Bahrain itu tidak mudah. Bahrain merupakan sekeping tanah
sempit menyusuri pantai Hajar di Teluk Persia yang memanjang dari
Qatif ke Oman. Di sana sini padang pasir hampir bersambung dengan
laut Teluk, sedang di bagian hulu bersambung dengan Yamamah, yang
hanya dipisahkan oleh bukit barisan yang mudah dilewati bila menurun.
Banu Bakr dan Banu Abdul Qais dari kabilah Rabi'ah tinggal di
Bahrain ini dan di Hajar. Bersama mereka tinggal pula sekelompok
pedagang dari India dan Persia dan mereka menempati bandar-bandar
di muara Sungai Furat ke Aden. Mereka sudah bersanak semenda
dengan penduduk setempat dan sudah beranak pinak. Raja kawasan itu,
al-Munzir bin Sawa al-Abdi, seorang Nasrani, sudah memeluk Islam
ketika diajak oleh Ala' bin al-Hadrami yang pada tahun kesembilan
Hijri diutus oleh Nabi ke Bahrain. Sesudah masuk Islam pun al-Munzir
ini tetap sebagai raja atas kaumnya itu. Dia mengajak orang menganut
Islam seperti yang dilakukan oleh Jarud bin Mu'alla al-Abdi. Jarud ini
pernah datang kepada Nabi di Medinah, ia masuk Islam dan mendalami
ajaran agama. Kemudian ia kembali ke kabilahnya, mengajak mereka
masuk ke dalam agama yang benar ini sambil mengajarkan seluk beluk
agama kepada mereka.
Permulaan murtad di Bahrain
Al-Munzir bin Sawa wafat dalam bulan yang sama ketika Nabi
wafat. Sekarang penduduk Bahrain berbalik jadi murtad semua, tak berbeda
dengan daerah-daerah lain di Semenanjung itu, yang juga murtad.
Pergolakan karena pemurtadan ini menyebabkan Ala' bin al-Hadrami
lari dari Bahrain, begitu juga utusan-utusan Nabi yang lain lari dari
daerah-daerah yang murtad itu. Tetapi Jarud al-Abdi tetap bertahan
dalam keislamannya, bahkan ketika ia menanyakan kepada kabilahnya
apa sebab mereka murtad, mereka menjawab: Kalau Muhammad seorang
nabi ia tak akan mati. Kamu tahu — kata Jarud — bahwa dulu
nabi-nabi itu banyak, apa yang terjadi? Mati—jawab mereka. Bahwa
Muhammad Sallallahu 'alaihi wa sallam juga wafat seperti para nabi
sebelumnya itu — kata Jarud pula. Aku bersaksi, tiada tuhan selain Allah
dan bahwa Muhammad hamba dan Rasul-Nya. Mereka semua pun
mengucapkan kalimat syahadat itu dan mereka kembali dan bertahan
dengan Islam. Kembalinya Banu Abdul Qais tidak merintangi penduduk Bahrain
dari pemurtadannya. Dengan dipimpin oleh al-Hutam bin Dabi'ah, saudara
Banu Qais bin Sa'labah bahkan mereka yang tetap kukuh itu berkumpul
dan mengembalikan kerajaan kepada keluarga al-Munzir. Sebagai raj any a
mereka menobatkan al-Munzir bin Nu'man al-Munzir al-Garur (yang
menyesatkan). Mereka berusaha agar Jarud dan pengikut-pengikutnya
meninggalkan Islam. Tetapi segala usaha mereka tak berhasil. Melihat
keadaan demikian, Hutam pergi ke Qatif dan ke Hajar. Ia berusaha
membujuk warga keturunan Persia kedua tempat itu, dan merangkul
mereka yang belum masuk Islam. Ia mengepung Jarud dan sahabatsahabatnya
yang lain di kawasan Juwasa, dengan mendapat bantuan
dari Persia dan istananya. Ia mengepung mereka demikian rupa sehingga
mereka hampir mati kelaparan. Sungguhpun begitu tak seorang
pun dari mereka yang keluar dari Islam. Buat mereka, apa artinya hidup
demi membela agama yang benar ini.
Abu Bakr mengutus kembali Ala' bin Hadrami
Sementara itu Abu Bakr sudah mengutus Ala' bin Hadrami kembali
ke Bahrain memimpin sebuah brigade dari kesebelas brigade untuk
menghadapi golongan murtad. Keberangkatan Ala' ini setelah Khalid
bin Walid dapat menumpas Musailimah dan pengikut-pengikutnya. Saat
melalui Yamamah mereka yang sudah kembali kepada Islam cepat-cepat
bergabung kepada Ala'. Dari kalangan Muslimin kemudian menyusul
Sumamah bin Asal dan kaumnya, Qais bin Asim al-Minqari dan sekian
banyak lagi di Yaman dan kabilah-kabilah lain yang sudah merasa bahwa
kekuatan dan kekuasaan Muslimin tak dapat tidak akan kembali seperti
sediakala. Tidak heran kalau begitu! Pada setiap bangsa dan zaman manusia
cenderung pada yang kuat, sebab mereka menduga bahwa kebenaran
dan kekuatan itu saiing menopang. Segala yang dasarnya ketidakadilan
dan kezaliman, menurut hemat mereka tak akan dapat berdiri. Sebelum
dulu bergabung dengan Ala', Qais bin Asim dan kaumnya termasuk
orang yang enggan mengeluarkan zakat dan sedekah. Tatkala Ala'
singgah di Yamamah sesudah kemenangan Khalid, Qais kembali kepada
Islam dan mau mengumpulkan zakat dan menyerahkannya kepada Ala',
la sudah membatalkan niatnya semula dan bersama-sama dengan Ala'
menghadapi Bahrain.
Kisah tentang Dahna' dan mukjizat Allah
Bersama pasukannya Ala' meluncur terus mengarungi gurun Dahna'
ke tempat tujuannya. Setelah malam tiba ia memerintahkan pasukannya
berhenti dan turun dari kendaraan agar tidak tersesat di padang pasir.
Sesudah mereka berhenti, unta-unta itu terpencar di Sahara dan kabur
bersama persediaan makanan dan minuman yang dibawanya. Sekarang
tak ada lagi yang akan mereka makan atau minum. Ketika itulah mereka
hanya dipengaruhi oleh perasaan sedih. Mereka yakin bahwa sekarang
hanya berhadapan dengan maut. Satu sama lain mereka sudah
saiing berwasiat. Tetapi Ala' berkata kepada mereka: "Apa yang ini terjadi? Apa
yang mempengaruhi kamu?"
"Bagaimana kami dapat disalahkan," jawab mereka. "Kalau sampai
besok, sebelum terik matahari sempat membakar kami, kami sudah
tinggal jadi cerita orang."
Dengan kalbu penuh iman Ala' berkata lagi:
"Saudara-saudara! Jangan takut. Bukankah kita Muslimin? Bukankah
kita berjuang di jalan Allah? Bukankah kita berjuang membela
agama Allah?"
"Benar," sahut mereka.
"Bergembiralah! Sungguh, Allah tidak akan mengecewakan orang
semacam kita."
Bertalian dengan ini juga ada sumber lain yang menyebutkan bahwa
selesai salat subuh mereka hanyut dalam doa, hingga begitu matahari
terbit tampak oleh mereka sekilas bayangan udara (fatamorgana), kemudian
menyusul yang kedua lalu yang ketiga. Pemimpin mereka berkata:
"Air!" Mereka pergi mendatangi tempat itu. Mereka minum, mandi dan
mengambil air sepuas-puasnya.
Matahari pun sudah makin tinggi. Tiba-tiba dari segenap penjuru
unta-unta itu datang kembali dan menderum (berlutut) di depan mereka.
Sekarang mereka menaiki kembali unta masing-masing dan meneruskan
perjalanan. Diceritakan juga bahwa Abu Hurairah dan seorang sahabatnya dari
orang Arab pedalaman yang sudah mengenal daerah ini, ketika kembali
ke tempat ditemukannya air tadi, ternyata tak melihat kolam ataupun
bekas air. Orang yang sudah mengenal benar daerah-daerah ini mengatakan
bahwa ia tahu benar tempat ini, dan sebelum kejadian itu
memang tak pernah ia melihat ada air tergenang di sana. Itu sebabnya
dikatakan bahwa kejadian ini adalah salah satu mukjizat Allah, dan bahwa
air itu merupakan anugerah dari Allah.
Serangan Muslimin dan kaum murtad silih berganti
Beberapa Orientalis menyatakan kesangsiannya mengenal cerita ini.
Baik kesangsian itu beralasan atau tidak, yang jelas Ala' dan pasukan
untarrya sudah berangkat dan meneruskan perjalanan sampai tiba di
Bahrain. Dalam pada itu Ala' tetap memberi semangat kepada Jarud
dan teman-temannya. Dia sendiri memang sudah siap- menghadapi Hutam.
Tetapi dilihatnya kaum murtad itu jumlah orang dan persenjataan yang
cukup besar, yang tak akan mudah diserang begitu saja. Oleh karena itu
kedua pihak, Muslimin dan kaum murtad sama-sama membuat parit dan
mereka mengadakan serangan silih berganti kemudian kembali ke parit
masing-masing. Selama sebulan mereka dalam keadaan begitu tanpa
mengetahui bagaimana nasib mereka kelak. Sementara mereka dalam
keadaan demikian itu, suatu malam Muslimin mendapat kesempatan
berharga, lawan itu mendapat pukulan yang sangat menentukan.
Ketika itu pihak Muslimin mendengar suara-suara ribut di markas
kaum musyrik itu seperti yang biasa terjadi bila orang sedang panik
atau sedang dalam perang. Ala' mengirim orangnya untuk mencari berita.
Kemudian diketahuinya bahwa malam itu mereka sedang hanyut
dalam minum minuman keras, sedang dalam keadaan mabuk, sudah tak
menyadari dirinya. Ketika itulah Muslimin keluar dari dalam parit dan
langsung menyerbu markas mereka, menghantam dan membantai mereka
dengan pedang. Kaum murtad yang lain melarikan diri, ada yang mundar
mandir di parit, tda yang kebingungan, ada yang terbunuh dan yang
ditawan, dan ada pula yang selamat tapi mereka gelisah. Ketika itu
Qais bin Asim mendekati Hutam yang sudah tergeletak di tanah lalu
dihabisinya. Sedang Afif bin Munzir al-Garur ditawan.
"Engkau telah menyesatkan mereka," kata Ala'.
Al-Garur kemudian masuk Islam dan dia berkata: "Aku bukan yang
Garur — bukan yang menyesatkan, tapi aku disesatkan orang."'
Oleh Ala' ia maafkan.
Mereka yang selamat dari tawanan dan dari maut melarikan diri,
berlayar ke pulau Darin. Oleh Ala' mereka dibiarkan di sana. Sementara
itu Ala' mendapat surat yang memberitahukan bahwa kabilahkabilah
yang tinggal di Bahrain sudah kembali kepada agama Allah.
Bala tentara Ala' sekarang sudah bertambah jumlahnya dengan bergabungnya
warga keturunan Persia di tempat itu. Ia memerintahkan orang
pergi ke Darin supaya tak ada lagi di sana tempat berlindung buat golongan
murtad.
Menyeberang lautan dan menumpas pembangkang
Darin adalah sebuah pulau di kepulauan Teluk Persia, berhadapan
dengan Bahrain. Di tempat ini ada lima biara besar dari lima kabilah
yang beragama Kristen. Seterusnya sumber itu menyebutkan, bahwa
tatkala Ala' memerintahkan pergi ke sana, mereka tak punya kapal untuk
menyeberang ke tempat itu. Salah seorang di antara mereka berkata:
"Allah telah memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada
kita di darat supaya jadi pelajaran buat kita di laut. Berangkatlah kalian
menghadapi musuh. Kemudian pelajarilah laut yang menuju ke tempat
mereka, sebab Allah telah mengumpulkan mereka."
"Akan kami laksanakan," jawab mereka. "Kami tak akan pernah
gentar sesudah mengalami peristiwa gurun Dahna'. Demi Allah, sedikit
pun tak ada rasa takut pada kami."
Ketika mereka berangkat itu, dan begitu sampai di pantai, langsung
mereka berlompatan menyerbu kuda, bagal, keledai dan unta. Setelah
berdoa kepada Allah, mereka menyeberangi selat, berjalan seperti semut
di atas lumpur pasir yang digenangi air dan melumuri kaki-kaki unta
itu. Adakah ketika itu Selat Persia sedang surut, atau cerita itu yang
berlebihan, ataukah penduduk yang bergabung dengan Muslimin itu meminjamkan
perahu-perahu untuk menyeberangi lautan?! Sumber-sumber
itu tidak menyinggung kemungkinan terakhir ini, meskipun menurut
hemat beberapa ahli sejarah mungkin saja. Tetapi bagaimanapun juga,
Muslimin sampai di Darin dan bertemu dengan mereka yang melarikan
10. BEKAS PERANG RIDDAH 173
diri. Di tempat itu terjadi pertempuran yang hebat sekali. Tak ada yang
tertinggal dari mereka, anak-istri ditawan, harta benda yang jumlahnya
mencapai sedemikian rupa sehingga yang menjadi bagian pasukan berkuda
enam ribu dan bagian yang berjalan kaki dua ribu.1
Ala' bin Hadrami dan yang lain kembali ke Bahrain, kecuali mereka
yang memang ingin menetap di sana. Ala' menulis surat kepada Abu
Bakr melaporkan kemenangannya itu. la tinggal di Bahrain setelah pembangkangan
kaum murtad dapat ditumpas. Sejak itu ia tak lagi merasa
khawatir selain dari suku-suku badui yang biasa menyerang untuk merampok,
sedang pengaruh intrik-intrik Persia di Semenanjung itu sudah
menyusut. Di samping dari segi ini ia sudah merasa aman, sebelum ia
berangkat ke Darin, tiba-tiba kabilah-kabilah dan warga keturunan Persia
di Bahrain ikut pula bergabung kepadanya. Hal ini berarti dapat menghilangkan
bahaya yang selama ini masih dikhawatirkan. Yang memimpin
penggabungan ini ialah Utaibah bin Nahhas dan Musanna bin Harisah
asy-Syaibani. Di setiap jalan mereka mencegat orang-orang yang mau
melarikan diri dan para pengacau. Bahkan Musanna mengejarnya sampai
ke pantai Teluk Persia. Dihadapinya intrik-intrik Persia dan dikikisnya
pembela-pembelanya yang terdiri dari kabilah-kabilah dan warga keturunan
Persia setempat, sampai ke muara Sungai Furat. Tercapainya muara
itu serta hubungannya dengan Irak dan dakwahnya mengajak orang
kepada Islam di tempat itu ada juga pengaruhnya. Barangkali tidaklah
berlebihan kalau kita katakan bahwa inilah langkah awal memasuki
Irak.
** *
Memerangi kaum murtad di Oman
Kita tidak hendak mendahului peristiwa itu jika kita menyinggung
soal Irak padahal pembicaraan kita masih sekitar Oman yang bertetangga
dengan Bahrain. Masalah pembangkangan di sana tak kurang
hebatnya dari di tempat lain! Baik juga bila sekarang kita mengikuti
pasukan Muslimin ke sana sampai kedua kawasan itu kemudian kembali
sadar.
Sumber lain menyebutkan bahwa Ala' tak pernah membawa Muslimin ke Darin dalam
perang ini, dan bahwa Darin sebelum masa pemerintahan Umar bin Khattab tetap terasing,
tidak bergabung kepada Islam atau kepada kekuasaan lain di Semenanjung itu.
Pada masa Rasulullah Oman berada di bawah kekuasaan Persia,
dan sebagai amir ditunjuk Jaifar.' Nabi pernah mengutus Amr bin As
mengajak penduduknya masuk Islam. Karena Jaifar merasa khawatir
kaumnya akan membangkang sebab enggan membayar zakat ke Medinah,
Amr telah mencapai kesepakatan dengan dia untuk membagi-bagikan
zakat itu kepada fakir miskin setempat. Amr masih tinggal di tengahtengah
mereka. Tatkala kemudian mereka memberontak setelah Nabi
wafat, ia lari kembali ke Medinah, dan Jaifar lari ke pegunungan dan
berlindung di sana. Pemimpin pemurtadan di Oman ialah Laqit bin Malik al-Azdi. Seperti
yang lain dia juga pernah mendakwakan diri sebagai nabi. Ketika
itu Abu Bakr sudah mengirim Huzaifah bin Mihsan al-Gilfani dari Himyar
ke Oman dan Arfajah bin Harsamah al-Bariqi dari Azd ke Mahrah. Keduanya
diperintahkan berangkat bersama-sama, bertolak dari Oman dan
pimpinan di tangan Huzaifah, dan bila sudah berbelok di Mahrah pimpinan
supaya dipegang Arfajah. Kita masih ingat bahwa Ikrimah bin Abi Jahl yang dulu menuju
Yamamah, dan dia tidak mau menunggu datangnya bala bantuan dari
Syurahbil bin Hasanah. Malah cepat-cepat ia menghadapi Musailimah
supaya membawa kemenangan sebagai kebanggaan. Tetapi ia dipukul
mundur oleh Musailimah. Kita juga masih ingat bahwa Abu Bakr tak
membolehkan Ikrimah kembali ke Medinah, melainkan diperintahkan
terus ke Oman membantu Huzaifah dan Arfajah dalam menghadapi
penduduk negeri itu. Ketika Abu Bakr menyampaikan perintah ini kepada
kedua jenderal itu, dan dipesankannya juga agar mereka memperhatikan
pendapat Ikrimah, Ikrimah cepat-cepat berangkat dan sempat
menyusul kedua jenderal itu sebelum mereka mencapai Oman. Selesai
mengadakan musyawarah, mereka bersama-sama memberitahukan Jaifar
dan saudaranya Abbad'- ke tempat persembunyian mereka, dan keduanya
diminta bergabung.
Muslim in mendapat kemenangan di Oman
Kedatangan Muslimin ini diketahui oleh Laqit. Ia mengumpulkan
pasukannya kemudian bermarkas di Daba. Jaifar dan Abbad serta rombongannya
sudah berangkat ke Suhar yang kemudian memberitahukan
kepada Ikrimah dan kedua rekannya. Mereka lalu bergabung. Di Daba
inilah kemudian terjadi pertempuran dahsyat antara kedua kekuatan itu
1 Jaifar dan Abbad anak-anak al-Khulanda sebagai Amir Azd Oman. —Pnj.
2 Dalam Al-Kamil oleh Ibn Asir. "Tyaz".
dan hampir saja kemenangan berada di pihak Laqit. Dalara pada itu
dalam barisan Muslimin terjadi pula sedikit kekacauan. Tetapi ketika
itu datang bantuan besar-besaran dari Banu Abdul Qais dan kabilahkabilah
Bahrain lainnya yang melindungi mereka serta memberi bantuan
dengan melipatgandakan kekuatan mereka. Dengan demikian mereka
maju terus menyerbu dan mengejar Laqit dan pasukannya. Ada sepuluh
ribu orang dari mereka yang terbunuh. Perempuan-perempuan dan anakanak
ditawan, sedang harta benda dibagi-bagikan di antara mereka. Dengan
demikian terpenuhilah sudah janji Allah di Oman. Keadaan Muslimin
di sana sekarang sudah kembali stabil.
Huzaifah masih tinggal di Oman membereskan segala sesuatunya
dan menjaga ketenangan penduduk, Arfajah berangkat ke Medinah
membawa seperlima rampasan perang kepada Abu Bakr. Sedang Ikrimah
dan pasukannya meneruskan perjalanan ke Mahrah untuk menertibkan
keadaan serta untuk mengembalikan panji Islam di sana.
** *
Memerangi kaum murtad di Mahrah
Ikrimah berpisah dengan Huzaifah di Oman, ujung timur dari selatan
Semenanjung. la menuju ke bagian barat Mahrah yang masih banyak
terdapat kaum murtad. Dia berangkat dalam sebuah pasukan untuk melipatgandakan
jumlah pasukannya dengan memobilisasi kabilah-kabilah
yang sudah kembali kepada Islam setelah melihat adanya kemenangan
itu. Tatkala sampai di Mahrah, ia menjumpai dua kelompok yang saling
bertentangan, masing-masing menyerukan agar mengikuti pimpinannya.
Ikrimah memilih yang paling lemah dan yang paling sedikit jumlahnya.
Mereka diajak kembali kepada Islam, dan ajakan ini segera mereka
sambut dengan baik. Ketika Ikrimah dan pasukannya bersama-sama dengan penduduk
Mahrah yang sudah kembali kepada Islam, mereka bertemu dengan
kelompok lain. Di sini terjadi kontak senjata yang lebih dahsyat dari
pertempuran Daba, tetapi kemenangan berakhir di pihak Muslimin, yang
berhasil membunuh, menawan dan mengambil rampasan perang, di
antaranya seribu ekor unta pilihan. Ikrimah mengirim seperlimanya kepada
Abu Bakr di tangan pemimpin rombongan sekutunya. Untuk menjaga
keamanan dan ketenteraman ia masih tinggal beberapa lama lagi.
Setelah kemudian keadaan sudah aman dan ketertiban dapat dipulihkan,
Ikrimah berangkat bersama anggota pasukannya yang jumlahnya sekarang
sudah bertambah dua kali lipat dengan bergabungnya penduduk
Mahrah kepadanya. la pergi menemui Muhajir bin Abi Umayyah al-
Makhzumi, untuk melaksanakan perintah Khalifah. Dengan kerja sama
demikian kini ia berhasil mengembalikan Yaman dan Hadramaut kepada
Islam.
** *
Memerangi kaum murtad di Yaman
Benarkah Ikrimah pergi dari Mahrah ke Hadramaut dan Kindah?
Rasanya ini hanya fantasi. Hadramaut tetangga dan berbatasan dengan
Mahrah. Muhajir bin Abi Umayyah menyusur turun dari utara ke Yaman.
Mau tak mau Ikrimah harus mempercepat langkah supaya dapat menyusulnya.
Soalnya, karena pemberontakan Yaman sudah berjalan lama
dan keadaannya cukup rumit. Lebih cepat pemberontakan itu dapat ditumpas
akan lebih mudah menumpas sisa-sisa yang lain yang masih ada
di Kindah dan Hadramaut.
Di atas sudah kita bicarakan mengenai pembangkangan Aswad al-
Ansi di Yaman serta pengakuannya sebagai nabi dan keberangkatannya
ke San'a. Begitu juga mengenai beritanya yang sudah menyebar luas
sampai ke Mekah dan Ta'if. Pembunuhan gelap yang dilakukan orang
yang bersekongkol dengan istrinya Azad, yang sebelum itu adalah istri
Syahr bin Bazan, raja San'a. Beberapa sumber biasa menyebutkan bahwa
berita terbunuhnya Aswad sampai ke Medinah pada hari ketika Nabi
wafat. Abu Bakr mengangkat Fairuz sebagai wakil di Yaman. Tetapi tak
lama sesudah tersebarnya berita bahwa Nabi telah wafat, timbul lagi
pergolakan di sana yang lebih hebat dari semula. Ada beberapa faktor
yang menyebabkan pergolakan ini makin berkobar.
Pergolakan bertambah karena beberapa faktor
Faktor pertama terpecah belahnya kekuasaan di kawasan ini demikian
rupa sehingga berbalik menjadi kelemahan. Setelah Bazan meninggal
kekuasaan di Yaman dibagi-bagi antara anak Syahr di San'a dengan
jamaah Muslimin yang ada di Najran, Hamdan dan di tempat-tempat
lain. Inilah yang memberi semangat kepada Aswad mengadakan pemberontakan.
Kekuasaan yang terpecah belah di utara Yaman sampai ke
Mekah, seperti di Yaman sendiri. Di Tihamah sampai ke batas laut dipegang
seorang penguasa. Di pedalaman, masing-masing kabilah memegang
kekuasaan sendiri-sendiri. Setelah pemberontakan Aswad menemui
kegagalan, sudah wajar jika tiap penguasa berusaha ingin kembali kepada
kekuasaannya semula, dan untuk itu mereka siap berperang. Juga
sudah wajar bila pendukung-pendukung Aswad berusaha sekuat tenaga
mengadakan pergolakan, kalau-kalau kekuasaan jatuh ke tangan mereka
seperti pada Aswad dulu. Bahwa sekarang Nabi sudah wafat dan di
seluruh kawasan itu timbul pikiran akan mengadakan pemurtadan, dan
setiap kabilah atau suku berhak mencita-citakan kebebasannya yang
semula, pergolongan demikian itu telah mencapai puncaknya di Yaman
dan daerah-daerah sekitarnya, yang dulu pernah menjadi ajang kegiatan
Aswad al-Ansi dan pendukung-pendukungnya.
Para pemberontak Yaman setelah matinya Aswad
Sesudah Aswad mati pendukung-pendukungnya tidak tinggal diam.
Panglima-panglima mereka bahkan menjelajahi daerah-daerah sekitar
Najran dan San'a. Mereka tidak meminta perlindungan kepada siapa
pun, juga tak ada yang meminta perlindungan kepada mereka. Ketika
itu, Amr bin Ma'di Karib, pahlawan penyair yang terkenal pemberani,
Pemilik Samsamah,1 termasuk yang mengambil kesempatan ini. la berusaha
memburu kekuasaan itu dengan jalan pemberontakan, seperti yang
pernah dilakukannya pada masa Aswad dengan jalan menggabungkan
diri kepadanya. Di pihak lain muncul pula Qais bin Abd Yagus, yang
dulu termasuk pemuka komplotan yang membunuh Aswad. Tetapi dia
diusir oleh Fairuz bersama-sama dengan Dazuweh.2 Dengan demikian
terjadi kekacauan di sana sini sehingga di kawasan ini ketenangan dan
keamanan sulit dikendalikan.
Bagaimana caranya mengatasi keadaan ini? Langkah pertama ialah
jalan Medinah-Yaman harus aman. Kabilah Akk dan beberapa kabilah
Asy'ari sering mencegat orang di jalan sepanjang pesisir dengan menyandarkan
bantuan kelompok-kelompok yang bergabung kepada mereka.
Kota terdekat yang dihuni Muslimin ke tempat ini ialah Ta'if. Karenanya
Tahir bin Abi Halah, penanggung jawab kota itu menulis surat
kepada Abu Bakr dan ia pergi ke tempat itu dengan sebuah pasukan
yang kuat, ditemani oleh Masruq al-Kalbi. Setelah berhadapan dengan
penjahat-penjahat ini banyak di antara mereka yang terbunuh, sehingga
disebutkan bahwa lalu lintas di jalan itu terganggu oleh mayat-mayat
mereka. Sebelum menerima berita operasi itu Abu Bakr telah menulis
kepada Tahir memberi semangat kepadanya dan kepada pasukannya
agar memerangi mereka, dan memerintahkan agar mereka tinggal di
A'lab,' sampai jalan Akhabis menjadi aman. Sejak itu kelompok Akk
ini diberi nama Kelompok Akhabis. Sampai sekian lama jalan ini dinamai
Jalan Akhabis
Faktor kedua perlentangan ras
Faktor kedua yang menambah memanasnya pemberontakan di Yaman
ialah pertentangan ras. Abu Bakr telah menugaskan Fairuz di San'a
menggantikan Syahr yang dibunuh oleh Aswad. Teman-teman Fairuz
ketika berkomplot membunuh Aswad ialah Dazuweh, yang sebelum itu
sama-sama menjadi pejabat dan pembantu dekat Syahr, Jisynas dan
Qais bin Abd Yagus komandan pasukan. Fairuz dan Jisynas ini asal
Persia, sedang Qais berdarah Arab dari Himyar. Oleh karena itu Qais
merasa disaingi oleh Fairuz dengan kepercayaan yang diberikan oleh
Abu Bakr kepadanya, bukan kepada Qais. Maka dia bermaksud hendak
membunuhnya. Tetapi setelah dipertimbangkan lebih dalam ia berpendapat bahwa
dengan membunuh Fairuz itu berarti mengobarkan api fitnah yang akan
ditentang oleh seluruh warga keturunan Persia, yang sudah tinggal di
Yaman sejak negeri ini dikuasai dinasti Kisra (Persia). Jumlah masyarakat
turunan Persia ini bertambah besar, kedudukan mereka makin
kuat dan pejabat-pejabat banyak pula dari mereka. Kalau Qais tidak
mengerahkan orang-orang Arab untuk menumpas orang Persia ini pasti
ia akan mengalami kegagalan seperti yang dialami Aswad dulu, dan
nasibnya pun akan berakhir sama seperti nasib Aswad.
Qais menghendaki Yaman untuk bangsa Yaman
Qais menulis surat kepada Zul-Kula' al-Himyari dan pemuka-pemuka
Arab Yaman lainnya yang isinya: "Warga keturunan Persia di negeri kita
adalah orang-orang asing, mereka lebih dihormati daripada kita. Kalau
dibiarkan, mereka akan terus menguasai kita. Saya berpendapat sebaiknya
kita bunuh pemuka-pemuka mereka atau kita usir dari negeri kita
dan bebaslah kita dari mereka."
Tetapi Zul-Kula' dan kawan-kawannya tidak mendukungnya, juga
dia tidak membela warga keturunan Persia. Mereka lepas tangan dengan mengatakan "Kami samasekali tak punya kepentingan dengan
masalah ini. Engkau adalah teman-teman mereka dan mereka temantemanmu."
Mungkin dulu mereka pernah membantu dan membela Qais
dalam menghadapi penduduk keturunan Persia itu. Tetapi mereka melihat
Abu Bakr dan kaum Muslimin di pihak mereka dan menyerahkan
segala masalah ke tangan mereka. Apalagi mereka melihat warga keturunan
Persia begitu kuat menjaga Islam dan begitu setia kepada Abu
Bakr dan kekuasaan Medinah. Kalau begitu untuk apa memperselisihkan
hal-hal yang belum diketahui kesudahannya, terutama setelah terjadi
pemurtadan di Yaman dan negeri ini menjadi sasaran pasukan Muslimin,
dan setelah berita kemenangannya menggema ke segenap penjuru
Semenanjung itu.
Qais tidak patah semangat karena sikap Zul-Kula' dan temantemannya
yang tidak mendukungnya itu. Malah ia menulis surat kepada
kelompok-kelompok bandit yang dengan diam-diam dulu bersekutu dengan
Aswad, dan yang dulu datang ke sana dan siap memerangi siapa
saja yang berani menentang Aswad. Dimintanya mereka bergabung
kepadanya dan mau seia sekata mengusir penduduk keturunan Persia
itu dari Yaman. Sudah tentu permintaan semacam ini disambut baik
oleh komplotan itu. Bukankah ini sama dengan permintaan Aswad
dulu? Yang penting harus menang! Mereka membalas surat Qais dan
memberitahukan bahwa mereka siap memenuhi permintaannya itu secepatnya.
Karena semuanya dilakukan secara rahasia, maka San'a terkejut
sekali ketika mendapat berita bahwa komplotan itu sudah berada
di dekat kota. Pemuka-pemuka San'a segera berunding, langkah apa
yang harus mereka ambil.
Dazuweh dibunuh
Qais cepat-cepat menghubungi Fairuz, seolah berita itu memang
tiba-tiba dan sangat mengejutkannya. Ia meminta pendapatnya dan pendapat
Dazuweh untuk menipu kedua orang supaya mereka tidak mencurigainya.
Mereka bersama Jisynas diundangnya makan siang besok.
Dazuweh datang lebih dulu sebelum kedua kawannya itu. Tetapi begitu
masuk ke tempat Qais langsung ia dibunuh. Fairuz yang datang menyusul
kawannya itu ketika mendengar suara bisik-bisik Qais dengan
kawan-kawannya, langsung ia kabur dengan kudanya. Di perjalanan ia
bertemu dengan Jisynas. Mereka segera berbalik dan dengan memacu
kuda mereka pergi mencari pertolongan. Qais mengerahkan pasukan
berkudanya untuk mengejar mereka tapi sudah tak terkejar. Mereka
kembali disambut kemarahan Qais.
Fairuz dan Jisynas sudah sampai di pegunungan Khaulan, tempat
keluarga Fairuz dari pihak ibu. Kedua mereka ini hampir tak percaya
bahwa mereka telah selamat dari bencana.
Di San'a Qais bertindak cepat. la sudah merasa aman dan tenteram
seperti yang dulu juga dirasakan oleh Aswad. Tak terlintas dalam pikirannya
bahwa masih akan ada orang yang mampu mengalahkannya
dan menurunkannya dari kedudukannya itu. Bahwa Fairuz akan meminta
bantuan Abu Bakr dan akan menyerang Qais dengan kekuatan
dari keluarga Khaulan, sudah ada yang memberitahukan kepadanya.
Tetapi Qais malah mengejeknya seraya berkata: "Apa Khaulan! Apa
Fairuz! Ke mana mereka mau berlindung!"
Orang-orang awam dari kabilah-kabilah Arab Himyar sekarang bergabung
kepadanya, meskipun pemimpin-pemimpinnya tetap menjauhkan
diri. Sesudah ia merasa dirinya kuat, mulai ia bertindak terhadap
warga keturunan Persia itu. Mereka dibagi ke dalam tiga kelompok:
yang tinggal tanpa menunjukkan tanda-tanda pro Fairuz dibiarkan tetap
tinggal bersama keluarganya; yang lari bergabung dengan Fairuz, keluarganya
dibagi dua, sebagian dipindahkan ke Aden melalui laut, yang
lain melalui darat diangkut ke muara Furat, dan diperintahkan agar mereka
diasingkan ke negeri asal, dan tak seorang pun boleh tinggal di Yaman.
Qais terusir dari San 'a
Fairuz mengetahui apa yang telah menimpa warga setanah airnya
dulu itu. Ia mengajak kabilah-kabilah yang masih kuat rasa keislamannya
untuk membelanya. Ia bertindak demikian untuk mencegah fanatisma
kebangsaan dengan semangat agama. Banu Aqil bin Rabi'ah menyambut
baik ajakan itu, demikian juga kabilah Akk. Mereka berangkat hendak
menolong keluarga keturunan Persia yang sudah diputuskan oleh Qais
untuk diasingkan. Keberangkatan mereka dipimpin oleh Fairuz, yang
kemudian berhasil mengembalikan keturunan penduduk Persia itu.
Dalam pada itu ia bertemu dengan Qais dan pasukannya sebelum
San'a. Qais diusirnya dan dia kembali memegang kendali wilayah itu
mewakili Khalifah. Qais dan pasukannya melarikan diri ke tempat terbunuhnya
Aswad dulu. Dengan larinya itu habislah konsep tentang kebangsaannya
yang sudah menjadi dasar perjuangannya. Abu Bakr
memperkuat kedudukan Fairuz dengan mengirim Tahir bin Abi Halah
dengan bala tentaranya dan bermarkas tak jauh dari Fairuz.
Faktor ketiga, permusuhan lama Hijaz-Yaman
Tetapi kemenangan dan kembalinya Fairuz memegang pimpinan ini
tak berarti dapat mempertahankan perdamaian dan tidak pula dapat mengembalikan keamanan di luar kota San'a di kawasan Yaman. Kaum
murtad bertahan lebih gigih lagi di tempat itu. Di sinilah saatnya kita
bicara tentang faktor ketiga yang menyebabkan pembangkangan itu
lebih marak di kawasan ini. Yaman tak akan dapat melupakan persaingan
yang pernah ada dengan pihak Hijaz, dengan hegemoni dan pengaruh
kekuasaan yang lebih besar ada di pihak Yaman. Antara Yaman dengan
Hijaz pada masa Rasulullah tak pernah terjadi perang yang mengakibatkan
tunduknya Banu Himyar itu.
Kalaupun kemenangan Khalid dan Ikrimah di seluruh Yaman gemanya
memang sudah sampai kepada kabilah-kabilah Arab dan raja-raja
di sekitarnya, namun banyak juga pahlawan dan jenderal dalam kabilahkabilah
Yaman yang dapat dibanggakan tak kalah dengan kedua pahlawan
Hijaz itu, dan yang membuat orang gentar mendengar namanama
para pahlawan Arab itu. Sebagai contoh misalnya Amr bin Ma'di
Karib 'Pemilik Samsamah' itu. Dia memang seorang kesatria dan pelindung
Banu Zabid. Mendengar namanya saja pahlawan-pahlawan yang
lain sudah ketakutan dan tak berani menemuinya. Pada masa Umar bin
Khattab ia memegang peranan penting untuk kemenangan Islam dalam
beberapa peperangan. Dan sejarah tak akan dapat melupakannya. Usianya
yang sudah lanjut ketika itu tidak mengubah kehebatannya. Ia sempat
mengalami ekspedisi Qadisiyah dengan ikut bertempur mati-matian dalam
umur yang sudah di atas seratus tahun.
Amr memimpin pemberontakan dengan pengikut-pengikutnya, dan
Qais bin Abd Yagus ikut bergabung pula. Mereka bahu membahu dalam
membuat keonaran di seluruh kawasan itu, dan penduduk memberi pula
bantuan; kecuali Najran yang beragama Kristen masih mempertaharkan
perjanjiannya dengan Muhammad, kemudian menyatakan niatnya hendak
memperpanjang perjanjian itu dengan Abu Bakr.
Perjalanan Ikrimah dan Mujahid ke Yaman
Akan berpangku tangan sajakah Muslimin melihat Yaman diubrakabrik
oleh dua pemberontak dan pengikut-pengikutnya ini sehingga mereka
saling membunuh dan penduduk habis dilahap pemberontakan? Tidak!
Ikrimah bin Abi Jahl berangkat dari Mahrah ke Yaman sehingga mencapai
Abyan dengan bala tentaranya yang makin hiruk pikuk setelah
ditambah dengan perlengkapan dan orang-orang yang ikut bergabung
kepadanya di Mahrah. Sedang Muhajir bin Abi Umayyah menyusur
turun dari Medinah ke arah selatan melalui Mekah dan Ta'if dalam brigade
yang sudah dibentuk oleh Abu Bakr itu, kendati dia terlambat
beberapa bulan karena sakit. Dari Mekah, Ta'if dan Najran bertambah
lagi dengan orang-orang yang sudah berpengalaman dan cukup terkenal
dalam peperangan. Sesudah pihak Yaman mendengar tentang kedatangan kedua jenderal
ini — Ikrimah dan Muhajir — dan bahwa Muhajir sudah membersihkan
orang-orang yang berusaha mengadakan perlawanan, yakinlah mereka
bahwa pemberontakan mereka tak boleh tidak akan tamat, dan kalau
berperang juga mereka akan terbunuh dan tertawan dan perlawanan
mereka tak akan membawa arti apa-apa. Bahkan keadaan mereka sudah
begitu parah setelah Qais dengan Amr bin Ma'di Karib berselisih dan
saling mengejek, masing-masing memikul dendam hendak menjerumuskan
lawannya. Hal ini terjadi sesudah tadinya bersepakat akan samasama
menghadapi dan memerangi Muhajir. Tetapi karena mau menyelamatkan
diri, pada suatu malam Amr menyerang Qais yang kemudian
membawanya kepada Muhajir sebagai tawanan. Tetapi keduanya oleh
Muhajir dikenakan tahanan dan keputusannya akan diserahkan kepada
Abu Bakr.
Abu Bakr memaafkan Qais dan Amr
Semula Abu Bakr bermaksud menjatuhkan hukum qisas kepada
Qais karena membunuh Dazuweh.
"Hai Qais," kata Abu Bakr. "Engkau membunuhi hamba-hamba
Allah dan berteman dengan kaum murtad dan kaum musyrik, bukan
dengan sesama mukmin!"
Tetapi Qais membantah telah membunuh Dazuweh. Abu Bakr tak
punya bukti karena tak ada orang yang tahu atas pembunuhan itu. Oleh
karena itu ia menghindari penghukuman demikian dan orang itu tak
jadi dibunuh. Dengan menatap Amr bin Ma'di Karib Abu Bakr berkata:
"Dan kau, tidak malu kau setjap hari kalah dan menjadi tawanan!
Kalau engkau membela agama ini niscaya Allah akan mengangkat kau!"
"Tentu," kata Amr, "aku sudah terlanjur berbuat. Aku tak akan
mengulanginya lagi." Oleh Abu Bakr mereka dibebaskan dan dikembalikan kepada kabilahnya.
Dalam pada itu Muhajir sudah berangkat dari Najran dan sudah
sampai ke San'a. Pasukannya diperintahkan mengawasi komplotan banditbandit
yang masih keras kepala, yang selalu menimbulkan kekacauan di
mana-mana, yang sudah berjalan sejak zaman Aswad dulu, dan supaya
membunuh mereka di mana pun mereka dijumpai, dan jangan terima lagi
mereka. Tetapi yang mau bertobat dan kembali tanpa sikap membangkang,
terimalah mereka.
Ikrimah masih tetap berada di bagian selatan Yaman setelah membebaskan
Nakha dan Himyar. Dengan demikian seluruh Yaman sekarang
kembali aman dan tenteram. Warga Yaman kini kembali kepada
ajaran agama yang benar. Selain di Hadramaut dan Kindah, di seluruh
Semenanjung itu sudah tak ada lagi kaum murtad.
Kenapa Abu Bakr membela orang Persia daripada orang Arab
Sebelum kita mengikuti perjalanan Ikrimah dan Muhajir menghadapi
kaum murtad di kedua daerah itu, kita ingin menghilangkan keraguan
dan kekaburan sekitar apa yang terjadi di Yaman yang kadang masih
mengusik pikiran kita. Mengapa Abu Bakr membela orang Persia terhadap
orang Arab di sana? Mengapa ia membela Fairuz dan kawankawannya
terhadap Qais dan pengikut-pengikutnya? Untuk menghilangkan
keraguan dan kekaburan ini sebenarnya tidak sulit. Kita tahu Islam
tidak membedakan yang Arab dan yang bukan-Arab kecuali dari ketakwaannya.
Bahwa orang yang paling mulia dalam pandangan Allah
ialah yang paling bertakwa. Tetapi bukan itu saja yang menyebabkan
Abu Bakr membela Fairuz. Dasar pembelaannya ialah orang-orang Persia
itulah yang mula-mula masuk Islam di Yaman. Orang yang lebih
dulu masuk Islam punya tempat tersendiri. Di samping itu, yang mengadakan
pemberontakan terhadap agama baru itu justru penduduk Arab
negeri-negeri itu.
Aswad ini sudah mengaku dirinya nabi, sejak zaman Rasulullah.
Kemudian diikuti pula oleh pembela-pembela Aswad, di antaranya Amr
bin Ma'di Karib dan Qais bin Abd Yagus. Sebaliknya Bazan, Syahr,
Fairuz dan orang-orang Persia di sekitarnya, merekalah yang menyebarkan
dakwah Islam di kawasan itu. Merekalah yang berpegang teguh
pada Islam dan siap menghadapi musuh-musuhnya. Merekalah yang
setia kepada pemerintahan Medinah dan kepada Khalifah pengganti
Rasulullah tatkala orang-orang Arab kawasan itu semua murtad dan
seluruh bumi Semenanjung itu hangus terbakar. Dengan demikian tidak
heran jika Abu Bakr memberikan kekuasaan di sana kepada Fairuz,
membantunya dengan tenaga prajurit dan para perwira, dan dia pulalah
yang diangkat sebagai amir yang memerintah San'a, seperti yang juga
dilakukan Nabi dulu terhadap Syahr sebagai amir di sana, dan sebelum
itu, ayahnya Bazan sebagai amir atas seluruh Yaman.
Memerangi kaum murtad di Kindah dan Hadramaut
Sekarang tiba saatnya kita menapak ke langkah terakhir dalam Perang
Riddah ini. Kita pindah kini bersama Muhajir dan Ikrimah ke Kindah
dan Hadramaut. Sebagai pengantar ingin kita singgung bahwa ketika Rasulullah wafat
wakil-wakilnya di kawasan ini ialah: Ziyad bin Labid di Hadramaut,
Ukkasyah bin Mihsan di Sakasik dan Sakun dan Muhajir bin Abi
Umayyah di Kindah. Sudah kita lihat bahwa Muhajir ketika itu sedang
sakit di Medinah. Ia baru dapat melaksanakan tugasnya di Kindah dan
dapat memimpin pasukan menghadapi kaum murtad di Yaman beberapa
bulan kemudian setelah Rasulullah wafat. Itu sebabnya, sejak Rasulullah
menugaskannya di Kindah sampai kemudian ia berangkat bersama
pasukannya ke Yaman, tugas itu digantikan oleh Ziyad bin Labid.
Bagaimana Muhajir memerintah Kindah?
Kisah Muhajir memerintah Kindah ini agak aneh. Dia saudara Umm
Salamah istri Rasulullah, Ummulmukminin. Ketika ekspedisi Tabuk dia
tidak menyertai Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam Rasulullah marah
karenanya, dan sampai beberapa waktu lamanya masih merasa gusar.
Hal ini sangat menyentuh perasaan Umm Salamah karena ia tak berhasil
menyenangkan perasaan suaminya. Pada suatu ketika ia sedang
mencuci kepala Nabi sambil mengajaknya bicara sikap Nabi begitu ramah
kepadanya. "Bagaimana dia akan berguna kalau engkau masih mengecam saudaraku!"
katanya. Setelah dilihatnya sikap Nabi sudah lebih tenang dipanggilnya
saudaranya itu. Muhajir masih mengemukakan alasannya kepada
Rasulullah hingga Rasulullah dapat menerimanya dan ia diberi tugas
mengurus Kindah. Ziyad menggantikannya dalam tugas itu sampai Muhajir
datang ke sana pada masa pemerintahan Abu Bakr.
Siasat Ziyad dan ketegasannya
Karena bertetangga dengan Yaman, begitu pertama kali Aswad al-
Ansi mulai berkampanye, Kindah sudah segera menerimanya. Karena
itu Rasulullah memerintahkan agar sebagian zakat Kindah dibagikan di
Hadramaut dan sebagian zakat Hadramaut dibagikan di Kindah. Tampaknya
Ziyad terlalu keras melaksanakan ketentuan zakat itu hingga sempat
menimbulkan kegelisahan. Orang-orang yang tidak puas di Kindah dapat
ia atasi dengan bantuan orang-orang Sakun yang sudah kuat keislamannya
dan sebagai warga negara sangat setia. Mereka tak pernah membangkang.
Setelah Nabi wafat dan terjadi pemurtadan di kalangan orangorang
Arab kawasan itu, Ziyad ingin menumpasnya sebelum meluas ke
daerah kekuasaannya itu. Keinginannya untuk memerangi kaum murtad
mendapat dukungan kuat dari kabilah-kabilah yang ada di sekitarnya
dan yang keislamannya masih kuat.
Dengan tiba-tiba Ziyad menyerang Banu Amr bin Muawiyah sehingga
banyak dari mereka yang terbunuh dan istri-istri mereka ditawan.
Mereka berikut harta benda dibawa ke jalan yang menuju ke markas
Asy'as bin Qais, pemimpin Banu Kindah. Di antara perempuan-perempuan
itu ada yang terpandang kedudukannya di kalangan masyarakatnya,
yang sebelum itu mereka hanya mengenal harga diri dan kehormatan.
Ketika lewat di depan markas Asy'as perempuan-perempuan
itu berteriak-teriak sambil menangis: "Asy'as! Asy'as! Keluargamu,
keluargamu!"1
Asy'as adalah pemimpin yang berwibawa, dicintai dan disegani masyarakatnya.
Barangkali kita masih ingat ketika pada Tahun Perutusan
('Amul Wujud) ia datang ke Medinah menemui Rasulullah dengan memimpin
delapan puluh orang dari Kindah. Mereka semua mengenakan
pakaian sutra. Ia menyatakan masuk Islam dan melamar saudara perempuan
Abu Bakr Umm Farwah. Akad nikah dilakukan oleh Abu
Bakr sendiri. Tetapi untuk menenteramkan perasaan keluarga pengantin
laki-laki dengan perpisahan itu, pelaksanaannya kemudian ditunda. Jika
demikian kedudukannya tidak heran bila masyarakatnya merasa marah
karena kemarahannya itu, dan untuk itu mereka siap berperang mendampinginya.
Dan memang, mereka memang memerangi Ziyad dan mengambil
kembali tawanan perangnya. Dengan demikian mereka dapat
mengembalikan harga diri dan kehormatan mereka.
Ikrimah dan Muhajir bertemu di Ma 'rib
Sejak itulah Asy'as mengobarkan api peperangan di Kindah dan
Hadramaut. Ziyad khawatir sekali akan segala akibatnya. Maka ia menulis
surat kepada Muhajir bin Abi Umayyah meminta bantuan. Ketika
itu Muhajir sudah meluncur turun dari Yaman — begitu juga Ikrimah
— untuk menumpas sisa-sisa kaum murtad di Semenanjung. Muhajir
berangkat dari San'a dan Ikrimah dari Yaman dan Aden, dan mereka
bertemu di Ma'rib, lalu bersama-sama melintasi gurun Saihad. Muhajir
menyadari apa yang telah menimpa Ziyad itu. Pimpinan militer diserahkannya
kepada Ikrimah dan dengan sepasukan gerak cepat ia segera
berangkat. Begitu bergabung dengan pasukan Ziyad ia langsung menyerang
Asy'as hingga lawannya itu dapat dilumpuhkan. Tidak sedikit anak
buahnya yang mati. Asy'as sendiri dan anak buahnya yang masih selamat
melarikan diri dan mencari perlindungan di benteng Nujair.
Nujair adalah sebuah kota yang kukuh, tak mudah dapat ditaklukkan
dengan kekerasan. Ada tiga jalan masuk yang menghubungkan
lorong itu ke belakang benteng. Ziyad memasuki salah satu lorong itu,
Muhajir memasuki lorong yang kedua sedang yang ketiga dibiarkan
terbuka untuk memasok segala keperluan penghuni benteng itu. Tetapi
Ikrimah menggiring pasukannya dan langsung menempati lorong itu.
Jalur ke tempat persediaan makanan diputus. Tidak hanya itu, bahkan
ia mengirimkan sebagian pasukan berkudanya yang terpencar di Kindah
ke tepi laut dan ia terus membantai mereka yang masih memberontak.
Mereka yang berlindung di benteng Nujair melihat apa yang dialami
kaumnya itu. Mereka satu sama lain berkata: "Lebih baik kamu mati
daripada dalam keadaan seperti ini. Potonglah jambulmu sehingga seolah
kita sudah mempersembahkan hidup kita untuk Allah. Kita telah
diberi kenikmatan oleh Allah dan kita sudah menikmatinya; mudahmudahan
Dia akan menolong kita melawan orang-orang zalim itu."
Benteng Nujair dikepung dan diduduki
Dengan memotong jambul itu mereka saling berjanji tak akan lari.
Begitu terbit sinar pagi mereka keluar dan bertempur habis-habisan di
ketiga lorong yang menuju ke benteng itu. Tetapi apa gunanya bertempur
mati-matian begitu jika pasukan Muhajir dan Ikrimah memang
sudah tak dapat dikalahkan oleh kekuatan dan jumlah orang! Penghuni
benteng Nujair itu yakin ketika melihat bala bantuan untuk pasukan
Muslimin datang tak putus-putusnya. Pasti hancur mereka. Mulai mereka
putus asa, jiwa mereka lunglai dan mereka takut mati. Pemimpinpemimpin
mereka juga sudah khawatir akan nasib mereka sendiri.
Keangkuhan mereka kini langsung merosot.
Pengkhianatan Asy 'as
Setelah itu Asy'as kemudian keluar dan menemui Ikrimah dengan
maksud meminta perlindungan dari Muhajir, untuk dirinya sendiri dan
sembilan orang yang lain dengan ketentuan ia akan membukakan benteng
itu untuk pasukan Muslimin dan membiarkan mereka yang ada di
dalamnya. Permintaannya itu disetujui oleh Muhajir asal dia menulis
nama-nama kesembilan orang yang dimintakan perlindungannya itu.
Asy'as menuliskan nama-nama saudaranya, saudara-saudara sepupunya
dan anggota-anggota keluarganya yang lain. Tetapi dia lupa menuliskan
namanya sendiri dalam catatan itu. Setelah surat yang berisi catatan itu
ditera, diserahkannya kepada Muhajir. Asy'as mengeluarkan kesembilan
orang itu dari benteng dan pintu-pintu gerbang dibukakan untuk pasukan
Muslimin. Ketika mereka menyerbu masuk siapa saja yang mengadakan
perlawanan akan dipenggal lehernya. Perempuan-perempuan dalam benteng
itu sebanyak seribu orang ditawan. Muhajir menempatkan penjagaan
kepada tawanan-tawanan itu serta harta benda yang ada di dalamnya.
Setelah dihitung seperlimanya kemudian dikirimkan ke Medinah.
Perjalanan dunia ini memang serba aneh! Asy'as yang telah melakukan
pengkhianatan berat ini, dan yang telah menyerahkan kaumnya
untuk dibunuh dan menyerahkan seribu perempuan untuk ditawan,
Asy'as ini juga yang tidak tahan mendengar teriakan bibi-bibinya dari
Keluarga Amr bin Muawiyah: "Asy'as! Asy'as! Keluargamu, keluargamu!"
Maka cepat-cepat ia bertindak hendak membela mereka dan membebaskan
mereka dari tawanan Ziyad. Dan Asy'as yang dulu datang
menemui Nabi, yang kita ketahui begitu ramah, disambut oleh kaum
Muslimin juga dengan ramah, Asy'as itu juga yang ternyata begitu hina,
sehingga ia dikutuk oleh Muslimin dan dikutuk pula oleh perempuanperempuan
tawanan itu. Mereka menamakannya: "'urfun nar" ungkapan
bahasa Arab Yaman yang berarti "Pengkhianat." Tetapi bila orang
memang sudah terlalu terikat pada dunia dan takut mati, hidupnya akan
sangat hina dan ia akan tersungkur ke lembah yang lebih parah dari
mati. Muhajir memanggil orang yang nama-namanya sudah disebutkan
dalam catatan Asy'as itu, kemudian mereka dibebaskan. Karena nama
Asy'as sendiri tak terdapat dalam catatan yang sudah ditera itu, maka
ia dibelenggu dan sudah akan dihukum mati. "Bersyukur aku kepada
Allah karena engkau telah membuat kesalahan, Asy'as! Aku memang
ingin Allah akan membuat engkau mendapat malu!"
Tetapi Ikrimah bin Abi Jahl segera campur tangan.
"Tangguhkan," katanya. "Kita sampaikan dulu kepada Abu Bakr.
Dalam hal ini dia lebih tahu mengambil keputusan. Jika orang lupa
mencatatkan namanya, sedang dia sendiri mewakili mereka dalam pembicaraan
itu, adakah yang satu dapat membatalkan yang lain?"
Muhajir kemudian terpaksa menundanya. Orang ini dikirimkan kepada
Abu Bakr bersama-sama dengan tawanan yang lain. Sepanjang jalan
ia dikutuk oleh tawanan-tawanan itu dan oleh kaum Muslimin juga.
Abu Bakr memaafkan Asy'as
Dalam pembicaraan dengan Asy'as Abu Bakr mengingatkan segala
yang telah dilakukannya.
"Lalu, apa yang harus kulakukan terhadapmu?!" tanya Abu Bakr.
"Aku tidak tahu bagaimana pendapatmu; engkau yang lebih tahu,"
kata Asy'as. "Menurut pendapatku kau harus dibunuh."
"Aku yang mengajak kaumku hingga mereka menyetujui; tidak seharusnya
aku dibunuh," kata Asy'as menjawab Abu Bakr.
Karena percakapannya dengan Abu Bakr agak panjang Asy'as khawatir
ia akan dibunuh juga, lalu katanya:
"Jika engkau berniat baik kepadaku, tentu kau mau melepaskan tawanan-
tawanan itu, memaafkan kesalahanku, menerima keislamanku,
memperlakukan aku seperti rekan-rekanku yang lain dan mengembalikan
istriku kepadaku." Istri yang disebutkannya ialah Umm Farwah
saudara Abu Bakr. Sejenak Abu Bakr agak ragu akan menjawab. Tetapi
Asy'as tiba-tiba melanjutkan: "Lakukanlah, akan kaulihat aku menjadi
penduduk negeri itu yang terbaik dalam agama Allah."
Setelah hal itu dipikir-pikir dan dipertimbangkan Abu Bakr dapat
menerimanya dan keluarganya dikembalikan kepadanya seraya katanya:
"Ya pergilah, hendaknya kau berkelakuan baik."
Setelah itu kemudian Asy'as tinggal dengan Umm Farwah di Medinah.
Ia keluar dari kota itu baru pada masa Umar dengan membawa
tugas ke Irak dan Syam. Dalam menjalankan tugasnya itu ia benarbenar
berjuang mati-matian, yang kemudian ia dapat mengembalikan
citranya di mata kaum Muslimin.
Menumpas pemberontakan di negeri Arab
Muhajir dan Ikrimah masih tinggal di Hadramaut dan Kindah sampai
keadaan benar-benar aman dan tenteram. Dan dengan ditumpasnya
pemberontakan di negeri-negeri Arab itu Perang Riddah pun berakhir
sudah. Langkah berikutnya mengadakan konsolidasi politik, yang setelah
itu masih berlangsung lama. Tetapi kemudian timbul kekeruhan.
Langkah Muhajir pun tidak pula kurang tegasnya dalam menumpas
pembangkangan di kawasan ini, dibanding dengan di Yaman. Ia sudah
mengikis habis kaum murtad itu, dan menjatuhkan hukuman yang seberat-
beratnya kepada kaum pemberontak. Sebagai contoh misalnya
kita lihat dua orang penyanyi perempuan; yang seorang mencaci maki
Rasulullah dalam nyanyiannya, dan yang seorang lagi mengejek kaum
Muslimin. Muhajir memerintahkan dipotongnya kedua tangan dan mencabut
dua gigi depan kedua perempuan itu. Abu Bakr menulis surat
mencela perbuatannya itu sebagai tindakan yang salah. Untuk yang pertama
sebaiknya dibunuh, karena hukum yang berlaku bagi para nabi
tidak sama dengan yang berlaku terhadap yang lain, sedang untuk yang
kedua masih dapat dimaafkan kalau dia seorang zimmi (bukan Muslim
yang tinggal dalam kawasan Islam).
 "Bagaimana kau memaafkan perbuatan syirik padahal lebih berat.
Bersikap tenanglah. Jauhilah penganiayaan, karena itu merupakan perbuatan
dosa yang harus dihindari kecuali bila menyangkut hukum kisas."
Apa yang diperbuat Muhajir terhadap kedua penyanyi itu diperbandingkannya
dengan yang diperbuatnya terhadap para pembangkang dan
kaum murtad. Abu Bakr meminta Muhajir memilih untuk menjalankan pemerintahan
di Hadramaut atau di Yaman. Muhajir memilih Yaman. la berangkat
ke San'a dan tinggal di sana bersama Fairuz. Sedang Ziyad bin
Labid tetap di Hadramaut.
Kebalikannya Ikrimah yang sudah bersiap-siap akan kembali ke
Medinah, tak jadi ia berangkat. Malah ia kawin dengan putri Nu'man
bin al-Jaun. Rupanya kemarahan Abu Bakr kepada Khalid bin Walid
dulu ketika mengawini Umm Tamim dan kemudian mengawini putri
Mujja'ah yang jelas menyalahi adat istiadat orang Arab, tidak menjadi
rintangan bagi Ikrimah. Hanya saja perkawinan Ikrimah dengan gadis
ini telah juga menimbulkan masalah baru: anggota-anggota pasukannya
menggerutu, yang berkesudahan dengan diserahkannya persoalan itu
kemudian kepada Abu Bakr untuk mengambil keputusan.
Cerita perkawinan Ikrimah dengan putri Nu 'man
Sebenamya Ikrimah kawin dengan putri Nu'man ini ketika ia masih
di Aden kemudian dibawa pindah ke Ma'rib. Pasukannya berselisih
pendapat mengenai gadis itu. Ada yang mengatakan: Biarkan saja, dia
bukan perempuan yang sepatutnya buat dia. Yang lain berkata: Jangan
dibiarkan! Kemudian cerita ini diteruskan kepada Muhajir. Muhajir menulis
surat kepada Abu Bakr meminta pendapatnya mengenai masalah ini.
Tetapi Abu Bakr berpendapat bahwa apa yang telah dilakukan Ikrimah
itu tak perlu dirisaukan. Nu'man bin al-Jaun dulu pernah datang kepada
Rasulullah dan menginginkan ia menikah dengan putrinya itu. Maka
putrinya itu diperindah dan dibawa kepada Nabi. Dan yang lebih menarik
lagi gadis itu tak pernah mengeluh sakit. Tetapi ditampik oleh
Rasulullah. Gadis itu dibawa kembali oleh ayahnya ke Aden. Oleh
karena itu, ada sebagian anggota pasukannya yang menduga bahwa
Ikrimah sebaiknya menolak saja seperti yang dilakukan Rasulullah, supaya dalam hal ini dapat mengambil teladan dari Rasulullah Sallallahualaihi wasallam Tetapi Abu Bakr menolak pendapat ini, dan dia tak keberatan dengan perkawinan Ikrimah itu.
Sekarang Ikrimah menetap di Medinah bersama istrinya. Juga pasukannya
sudah kembali berkumpul di Medinah, kota yang ditinggalkannya
sejak pecah Perang Riddah dulu.
Abu Bakr melayangkan pandangannya ke seluruh Semenanjung
yang ada di sekitarnya itu. Teringat ia hari pembaiatannya dulu. Air
mata bercucuran karena rasa syukur atas kenikmatan yang dikaruniakan
Tuhan kepadanya, kenikmatan dalam bentuk kemenangan, kenikmatan
dengan memperkuat agama yang benar ini dengan tekad dan keteguhan
hatinya. Bagaimanakah Medinah ketika itu, Medinah yang telah berjaya
dengan kemenangannya, yang berdaulat di seluruh kawasan Arab, —
dibandingkan dengan Medinah yang kemudian dilanda oleh orang-orang
Arab yang bergejolak dan memberontak dan berusaha hendak mengepungnya
setelah Rasulullah wafat! Apa pula yang akan membuat Abu
Bakr membanggakan diri padahal ia ingat firman Allah kepada Rasul-
Nya: "...dan bukanlah kau yang melempar ketika kau melempar (segenggam
debu), tetapi Allah Yang melempar..." (Qur'an, 8. 17).
Gerangan apakah yang akan terjadi esok?! Betapa kesatuan agama
Allah ini kini bertambah kuat, bertambah agung dan tersebar luas?! Inilah
yang menjadi arah tujuan politik Abu Bakr. Dan ini pula yang dipikirkan
Abu Bakr sejak ia merasa yakin dengan kemenangan itu. Lama
sekali ia berpikir demikian sejak para jenderal dan pasukannya itu masih
bertugas menumpas sisa-sisa kaum murtad serta pengaruhnya di daerah
selatan. Bila Allah hendak membuktikan kekuasaan-Nya, maka kedaulatan
Islam itulah yang lahir dari hasil pemikiran dan perjuangan.